Sore ini, alhamdulillah, akhirnya bisa juga mengajaknya ke Kleyang Jurang. Sebuah dusun yang bagiku sangat istimewa. Hampir seluruh penduduk dewasanya menjadi donor darah sukarela. Pekerjaan mereka tani dan pembantu rumah tangga. Motto "totalitas tanpa batas untuk kemanusiaan" ada di dusun ini.
Pertama kali aku menginjakkan kaki di Kleyang Jurang, hatiku terpaku tak bisa berpaling. Apalagi saat bertemu dengan salah seorang dari mereka, seorang tuna netra yang telah lebih lima puluh kali donor. Diri ini seketika sangat malu. Sejak saat itulah, aku bertekad ingin mengajaknya ke dusun ini. Sebuah dusun yang sangat istimewa. Sebuah dusun yang sangat bersahaja, tetapi menyimpan banyak potensi yang luar biasa.
Bertemu para donor darah sukarela selalu menjadikan segala sesuatu sangat istimewa. Menyebabkan diri ini semakin belum ada arti. Membuat jiwa ini kian gelisah. Kepala selalu menjadi penuh akan cerita sekaligus harapan yang melambung laksana balon udara yang membubung tinggi dengan liar.
Aku sangat berharap banyak padanya. Beberapa kali kesempatan selalu lolos. Padahal aku ingin dia melihat langsung, mendatangi mereka para donor darah sukarela. Mendatangi akan mempunyai dampak yang berbeda dengan bila didatangi. Dan itu aku buktikan sore ini.
Dia pulang dengan banyak pekerjaan rumah. Dia pulang dengan membawa fakta di lapangan. Dia pulang dengan menggenggam harapan banyak orang. Dan bagiku, dia pulang dengan mengikiskan sebagian rasa gelisahku, juga sebersit rasa syukur bahwa semoga kelak di akhirat aku dapat menjawab pertanyaan Tuhanku bila ditanya tentang dia. Aku telah pernah mengajaknya jalan, melihat langsung amanah yang diembannya.
Ini baru sepotong perjalanan kecil, sahabatku. Sebuah kepingan mozaik dalam hidup amanahmu. Masih tersimpan sisa perjalanan lain, yang lebih berwarna. Dan aku dengan senang akan mengajakmu menyusuri perjalanan itu. Aku tidak peduli apakah dirimu senang atau terpaksa menikmati perjalanan kita. Kita baru memulai perjalanan itu, sahabat, dari sini.... Kleyang Jurang, Dusun Donor Darah Sukarela.......
Tampilkan postingan dengan label peristiwa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label peristiwa. Tampilkan semua postingan
Jumat, 19 September 2014
Senin, 24 Maret 2014
TUSAERI
Baru sekali itu aku bertemu. Belum mengenalnya. Menelusuri perjalanan panjang kemanusiaannya membuatku sangat malu.
12 Desember 1986. Aku kuliah semester III. Tusaeri pertama kali mendonorkan darahnya. Kemanusiaan itu terus mengalir seperti aliran sungai yang jernih mengikuti arus. Tanpa pernah jeda, jadwal donor selalu berhasil ia lalui.
Rumahnya berada di ujung sebuah dukuh, di kaki pegunungan Dieng. Sangat sederhana. Berdinding papan, berlantaikan tanah yang ditutup karpet plastik seadanya. Ruangan rumah sempit itu harus dibagi rata untuk istri, dua anaknya, empat ekor kambing tabungan biaya sekolah anaknya, dan beberapa ekor ayam yang disiapkan untuk menjamu tamu atau untuk hari-hari istimewa lainnya.
"Apa rahasianya,Pak?"
Tersenyum tipis sebelum menjawab. Sambil (maaf, inilah satu-satunya yang mengganjal benakku) menyulut sebatang rokok yang sejak tadi telah siap di jepitan kedua jari tangan kirinya. "Selalu bersyukur. Kesehatan yang kita punyai adalah kekayaan kita yang paling mahal."
"Hanya itu, Pak?"
Kembali dia tersenyum. Dan mengangguk. "Hanya dengan bersyukurlah kita akan selalu merasa kaya."
Tusaeri, seorang buruh pikul pasar, telah lebih seratus kali donor darah. Setiap mendonorkan darahnya dia harus mengeluarkan ongkos naik mikrobus sebesar penghasilannya sehari.
Tusaeri, menjadi seorang yang sangat istimewa bagiku. Dalam kebersahajaannya tersimpan energi semangat berbagi yang luar biasa. Dan semangat berbagi itulah yang membuatnya bahagia. Dan bagi Tusaeri, apa yang dia lakukan adalah hal yang biasa saja.
12 Desember 1986. Aku kuliah semester III. Tusaeri pertama kali mendonorkan darahnya. Kemanusiaan itu terus mengalir seperti aliran sungai yang jernih mengikuti arus. Tanpa pernah jeda, jadwal donor selalu berhasil ia lalui.
Rumahnya berada di ujung sebuah dukuh, di kaki pegunungan Dieng. Sangat sederhana. Berdinding papan, berlantaikan tanah yang ditutup karpet plastik seadanya. Ruangan rumah sempit itu harus dibagi rata untuk istri, dua anaknya, empat ekor kambing tabungan biaya sekolah anaknya, dan beberapa ekor ayam yang disiapkan untuk menjamu tamu atau untuk hari-hari istimewa lainnya.
"Apa rahasianya,Pak?"
Tersenyum tipis sebelum menjawab. Sambil (maaf, inilah satu-satunya yang mengganjal benakku) menyulut sebatang rokok yang sejak tadi telah siap di jepitan kedua jari tangan kirinya. "Selalu bersyukur. Kesehatan yang kita punyai adalah kekayaan kita yang paling mahal."
"Hanya itu, Pak?"
Kembali dia tersenyum. Dan mengangguk. "Hanya dengan bersyukurlah kita akan selalu merasa kaya."
Tusaeri, seorang buruh pikul pasar, telah lebih seratus kali donor darah. Setiap mendonorkan darahnya dia harus mengeluarkan ongkos naik mikrobus sebesar penghasilannya sehari.
Tusaeri, menjadi seorang yang sangat istimewa bagiku. Dalam kebersahajaannya tersimpan energi semangat berbagi yang luar biasa. Dan semangat berbagi itulah yang membuatnya bahagia. Dan bagi Tusaeri, apa yang dia lakukan adalah hal yang biasa saja.
Minggu, 09 Desember 2012
REUNI (2)
Jadilah hari ini. Bertempat di kediaman Pak Sukir, kami saling berbagi kisah. Kenangan yang terangkai selama enam setengah tahun bersama. Kisah yang terentang sepanjang 33 tahun itu terhimpun dengan haru. Bermuara pada niat, kan berlanjut sepanjang sisa usia kami.
Sabtu, 13 Oktober 2012
REUNI ( 1 )
Akhirnya sore ini bisa bertemu dengan teman yang telah terentang 33 tahun lamanya tak sua. Meski baru dengan Waluyo, Siti, dan Siroh tetapi telah mampu menghilangkan debar cemas semalam, khawatir tak jadi bertemu.
Berempat sepakat bahwa angkatan kami sepertinya angkatan yang banyak istimewanya. Barangkali bermula karena pada angkatan kami-lah terjadi perubahan tahun ajaran baru yang semula Januari menjadi Juli. Sisa waktu satu semester membuat kami mempunyai banyak kesempatan.
Setiap hari Sabtu, hari terakhir sekolah dalam sepekan, kami selalu diberi hadiah. Begitu masuk kelas setelah istirahat siang, di papan tulis telah tergambar empat sekuel lukisan kapur tulis. Kami menghabiskan siang itu dengan mendengarkan dongeng Pak Sukir.
"Salah sawijining dino...." adalah kalimat pembuka setiap dongengnya. Pembuka itu selalu dengan suara bariton dan penekanan nada yang membuat kami langsung terpaku penasaran. kemudian suara dan intonasi Pak Sukir akan berubah-ubah sesuai karakter dongeng yang disampaikan. Membuat kami selalu terpukau memperhatikan gerak-gerik Pak Sukir nyaris tak berkedip. Tersihir. ( Terima kasih, Pak Sukir, bekal itu ternyata sangat bermanfaat tatkala aku dihadapkan kepada kedua anakku menjelang tidur mereka. Meski cara mendongengku tak sehebat cara mendongeng Pak Sukir, aku sangat bersyukur bisa mendongeng untuk kedua anakku....)
Kalau tidak salah, angkatan kami satu-satunya yang melakukan perjalanan rekreasi dalam tiga kali kesempatan. Kesempatan pertama, menjelajah sepertiga wilayah kecamatan barat selatan. Kesempatan kedua, selang sepekan setelahnya, menjelajah sepertiga wilayah kecamatan barat laut dan utara. Dan penjelajahan itu berakhir pada sepekan kemudian, menghabiskan sisa wilayah kecamatan sisi timur laut dan timur.
Penjelajahan itu banyak sekali menyimpan pembelajaran bagiku. Melatih kekuatan fisik itu pasti, karena hamparan 13 desa itu kami jelajahi dengan jalan kaki. Tak peduli tak bersepatu, kaki kami semangat melangkah menaiki bukit, menuruni lembah, menyusuri pematang, dan menyeberangi sungai. Sepekan setelah penjelajahan itu berakhir, kedua kuku ibu jari kakiku terlepas, karena di penjelajahan terakhir ingin bergaya dengan memaksakan diri memakai sepatu yang kesempitan.
Belajar menyintai alam dan lingkungan, itu bonus yang lain. Bagaimana aku tidak menjadi cinta, bila dalam sepanjang perjalanan itu yang disuguhkan ALLOH adalah laksana hamparan surga yang dilukiskan di kanvas dunia.
Penjelajahan itu bukan hanya sekadar penjelajahan alam. Di setiap desa kami diajak Pak Sukir untuk singgah di sekolah yang ada. Berkenalan dengan para guru dan siswa sekolah tersebut. Menjaga silaturahim dengan siapapun, barangkali itu yang hendak Pak Sukir ajarkan kepada kami.
Untuk itu, di pertemuan tadi kami sepakat untuk memulai ikatan di antara kami dan teman-teman adalah bersilaturahim ke Pak Sukir. Dengan teman yang lebih banyak tentunya. Insya Alloh setelah Iedul Adha. Siroh, juragan ikan asin itu yang akan menjadi koordinator acara tersebut. Tak perlu mewah, yang penting harus istimewa. Setelah itu barulah kami akan membuat kesepakatan lain bentuk ikatan silaturahim itu. Yang jelas tidak akan menggunakan media sosial semacam facebook ataupun twitter. Bukan apa-apa. Kami hanya ingin silaturahim itu bernilai lebih. Dan, akan selalu istimewa.
Berempat sepakat bahwa angkatan kami sepertinya angkatan yang banyak istimewanya. Barangkali bermula karena pada angkatan kami-lah terjadi perubahan tahun ajaran baru yang semula Januari menjadi Juli. Sisa waktu satu semester membuat kami mempunyai banyak kesempatan.
Setiap hari Sabtu, hari terakhir sekolah dalam sepekan, kami selalu diberi hadiah. Begitu masuk kelas setelah istirahat siang, di papan tulis telah tergambar empat sekuel lukisan kapur tulis. Kami menghabiskan siang itu dengan mendengarkan dongeng Pak Sukir.
"Salah sawijining dino...." adalah kalimat pembuka setiap dongengnya. Pembuka itu selalu dengan suara bariton dan penekanan nada yang membuat kami langsung terpaku penasaran. kemudian suara dan intonasi Pak Sukir akan berubah-ubah sesuai karakter dongeng yang disampaikan. Membuat kami selalu terpukau memperhatikan gerak-gerik Pak Sukir nyaris tak berkedip. Tersihir. ( Terima kasih, Pak Sukir, bekal itu ternyata sangat bermanfaat tatkala aku dihadapkan kepada kedua anakku menjelang tidur mereka. Meski cara mendongengku tak sehebat cara mendongeng Pak Sukir, aku sangat bersyukur bisa mendongeng untuk kedua anakku....)
Kalau tidak salah, angkatan kami satu-satunya yang melakukan perjalanan rekreasi dalam tiga kali kesempatan. Kesempatan pertama, menjelajah sepertiga wilayah kecamatan barat selatan. Kesempatan kedua, selang sepekan setelahnya, menjelajah sepertiga wilayah kecamatan barat laut dan utara. Dan penjelajahan itu berakhir pada sepekan kemudian, menghabiskan sisa wilayah kecamatan sisi timur laut dan timur.
Penjelajahan itu banyak sekali menyimpan pembelajaran bagiku. Melatih kekuatan fisik itu pasti, karena hamparan 13 desa itu kami jelajahi dengan jalan kaki. Tak peduli tak bersepatu, kaki kami semangat melangkah menaiki bukit, menuruni lembah, menyusuri pematang, dan menyeberangi sungai. Sepekan setelah penjelajahan itu berakhir, kedua kuku ibu jari kakiku terlepas, karena di penjelajahan terakhir ingin bergaya dengan memaksakan diri memakai sepatu yang kesempitan.
Belajar menyintai alam dan lingkungan, itu bonus yang lain. Bagaimana aku tidak menjadi cinta, bila dalam sepanjang perjalanan itu yang disuguhkan ALLOH adalah laksana hamparan surga yang dilukiskan di kanvas dunia.
Penjelajahan itu bukan hanya sekadar penjelajahan alam. Di setiap desa kami diajak Pak Sukir untuk singgah di sekolah yang ada. Berkenalan dengan para guru dan siswa sekolah tersebut. Menjaga silaturahim dengan siapapun, barangkali itu yang hendak Pak Sukir ajarkan kepada kami.
Untuk itu, di pertemuan tadi kami sepakat untuk memulai ikatan di antara kami dan teman-teman adalah bersilaturahim ke Pak Sukir. Dengan teman yang lebih banyak tentunya. Insya Alloh setelah Iedul Adha. Siroh, juragan ikan asin itu yang akan menjadi koordinator acara tersebut. Tak perlu mewah, yang penting harus istimewa. Setelah itu barulah kami akan membuat kesepakatan lain bentuk ikatan silaturahim itu. Yang jelas tidak akan menggunakan media sosial semacam facebook ataupun twitter. Bukan apa-apa. Kami hanya ingin silaturahim itu bernilai lebih. Dan, akan selalu istimewa.
Jumat, 31 Agustus 2012
KEHILANGAN
Ahad ini kembali kutemukan indahnya hari. Mengikuti kegiatan teman-teman UDD ke Desa Bener, Kepil memberikan kesejukan bagi jiwa yang mulai gelisah. Semilirnya angin dalam perjalanan menuju dan dari desa itu meluruhkan penat yang menggumpal di sanubari. Puncak kepenatan itu adalah balasan sms yang tidak seperti aku harapkan semalam.. "biasanya kalau saya kirim dokumen langsung aja tuh"... aku yakin sepertinya ada yang tidak terjelaskan. Ketika kutanyakan kepada suami tentang hal itu, dia menjawabnya persis sama dengan apa yang kubayangkan... Ah, biarlah itu terselesaikan besok, insya Allah... Aku tak hendak lagi membawa soal itu ke kehidupan rumahku. Kucoba, kucoba, kucoba...meski terasa berat....
Aku telah kehilangan banyak hal selama proses ini berlangsung. Andai bukan karena telah telanjur janji, ingin kusegera mengakhirinya. Berkali-kali nuraniku berkata, bukan di situ tempatku. Bukan itu duniaku.... Layanan primerlah nafas profesiku.Aku sangat menikmati hari Ahadku ini. Aku sangat menyukai waktuku saat tadi. Detik ke detik yang menghimpun waktu, terasa nikmatnya. Meski terselip rasa was-was, kalau-kalau hal yang tak diharapkan terjadi. Alhamdulillaah, Allah memudahkan segala urusanku seperti yang kupinta. Ya Allah Ya Rabb, jadikan langkahku tadi sebagai salah satu penyusun tangga menuju surga-Mu....
Aku sangat menikmati hari Ahadku ini. Menyembuhkan luka, kecewa, dan gelisah. Menumbuhkan energi yang nyaris habis tergerus gundah. Terlalu seriuskah diriku?
Aku menikmati hari Ahadku ini. Sama seperti Ahad sepekan lalu, ketika aku menyusuri Dukuh Jambon, Sojopuro. Meskipun hal yang paling kubenci harus menemaniku: tumbuhnya tunas-tunas pohon tembakau hampir memenuhi sebagian besar perjalananku. Tapi, itulah perjalanan pengobat, hingga sedih karena banyak salah saat bimbingan sehari sebelumnya menguap tak bersisa.
Di Jambon, aku baru tahu bahwa untuk sabun cuci dibeli dengan kredit pada harga yang berlipat-lipat. Sabun telah habis terpakai, hutang belum lunas. Dan begitu daur berulang. Semakin menumpuk hutang, karena sabun menjadi kebutuhan pokok harian mereka.
Aku menikmati hari Ahadku lalu. Pada para ibu muda yang bersemangat mengubah segala. Semangat itu menular kepada jiwaku yang mulai kehilangan banyak hal. Dan, semakin menggebu memeluk jiwa saat pompa semangat sapu lidi koperasi yang kuhembuskan disambutnya dengan gempita. Allah, Rabbku, mudahkan segala soal ketika aku telah kehilangan banyak hal.
Aku menikmati hari Ahadku ini. Sama seperti hari Ahadku sepekan lalu. Aku menemukan kembali apa yang telah hilang beberapa bulan ini, di kedua hari Ahad terakhir ini.
Aku menikmati hari Ahadku ini. Sama seperti hari Ahadku sepekan lalu. Energiku kembali tumbuh, setelah sempat luruh tersapu. Lihatlah ibu-ibu perkasa itu. Meski tubuh telah menghimpun begitu banyak usia, tetapi semangat tak pernah pudar. Kehilangan, justru menumbuhkan kebahagiaan jiwa. Kehilangan menjadi sebab tumbuhnya kesabaran. Kehilangan menjadikan mata jiwa semakin bercahaya...
Aku memang telah banyak kehilangan. Pada segala hal. Tetapi, aku menikmati hari Ahadku ini dengan suka cita. Sebuah Ahad, di 27 Mei 2012.....
Senin, 19 September 2011
TIADA YANG ABADI
Seperti judul lagunya Petterpan saja....!
Tapi ini soal sangat serius...Hari ini aku dibuat terkesiap, gemetar, merinding, yang menyebabkan hilangnya segala nafsu kesenangan.
Ketika aku sedang menerjang batas cakrawala, menyoba bersama para sahabat yang sedang berktakziah mbak Yungky, sebuah sms mengisi handphone-ku "Assalam ukhtifillah...kaifa haluki? Say aku mau minta tolong nih, tapi gak buru2 lho. BIKININ AKU PUISI DONK. judulnya "TIADA YG ABADI" intinya: kekuatan, kecantikan, kepintaran, kekayaan, jabatan kan hilang dengan kembalinya kita pada SANG PENCIPTA. yang tinggal hanya kebaikan pada sesama (jika ada dan banyak) Jazakillah ya"
Aku terjerembab jatuh dalam nestapa. Keindahan pagi yang berselimut halimun raib seketika. Tiada yang abadi...
Keinginan mempercantik tampilan rumah, menata seluruh ruang yang ada supaya seperti yang ada dalam sebuah tabloid property yang baru aku baca, beterbangan bersama menipisnya kabut pagi. Hilang terkoyak karena sms magis itu...
"Alhamdulillah ana bil khaiir...Sungguh berat terasa amanahmu itu, ukhti...Jangankan puisi, menulis yang lain aja sekarang tergagap2 lebih sering mentok di tengah jalan...Kok tiba2 menghendaki puisi maha dahsyat gitu, gerangan apakah?"
Pagi itu, di antara ingatan ke para sahabat yang sedang bertakziah mbak Yungky, akhirnya berbalas sms. Sms yang menggetarkan sendi-sendi hati...
"Ya say aku minta tolong pada dikau dengan pertimbangan banyak sekali dikau berhadapan dengan orang2 sakit di mana di situ segala yang diberikan Allah nyaris hilang. renungan2 dikau aku harapkan dinda," balasnya atas pertanyaanku.
Aku tercekik. Bagaimana mungkin, seorang "sekelas" sahabatku ini meminta renungan-renungan dariku? Aku, yang masih sangat sering terbata-bata meniti hidup, terkadang oleng karena terpaan ujian, yang kadang masih gamang meretas jalan? Benarkah?
"Hiks...Tidakkah BILA WAKTU T'LAH BERAKHIR-nya Opick, dan KETIKA MULUT TAK LAGI DAPAT BICARA-nya Chryse sudah begitu dahsyat berbicara? Kalau pasienku kebanyakan mengajarkan JANGAN SAKIT karena sakit menjadikan kita miskin...padahal, kemiskinan sangat dekat dengan kekufuran, bukan?"
"Puisi itu kan kutujukan buat diriku juga orang2 di sekelilingku, baik yang dekat maupun yang agak jauh. Agar kami bisa terhindar dari KESOMBONGAN, EGOIS, AMARAH JUGA TIPU DAYA SETAN LAINNYA. Please dear...pelan2 saja. 1 malam 1 baris juga gak apa2"
"Gak janji, ya, mbakyu...kuusahakan sekuat yang kumampu..."
"Semoga adindaku dapat mempersembahkan yang indah dan menggugah untuk hati2 yang gundah...Yu huy...aku lagi melankolis nih," sambutnya. Aku dapat merasa ada rasa girang di dalamnya, meskipun melankolis.
Tiba-tiba, sms lain menyeruak di antara aliran smsku.
"Alhamdulillah aku sempat melihat jenazahnya dan mensholatinya... Subhanallah jenazahnya say...cantiiikkk...kaya lagi tidur..."
Terpelanting aku ke jurang tak berdasar. Gelap, tetapi banyak kunang-kunang...
Hari ini, begitu banyak dzikrul maut - mengingat kematian - yang ALLAH kirimkan untuk kurenungkan. Seorang sahabat yang ALLAH kirimkan memintaku membuat puisi akan kematian, dan seorang sahabat lagi yang mengirimkan warta tentang berpulangnya salah satu sahabat terbaik yang telah menyelesaikan tugas berjuang melawan keganasan dengan wajah tersenyum. Inilah salah satu cara ALLAH mengajarkanku untuk istiqomah di jalan niat semula. Kembali ke kampung halaman adalah langkah hijrah, mencari ladang amal sholih dan berharap bisa berbuah surga. Bisakah aku juga tersenyum ketika ALLAH memanggilku?
Minggu, 09 Januari 2011
J. Hidayatullah
Sabtu, 8 Januari 2011.
Salman, Cirebon, tempat Alif dua setengah tahun ini menimba ilmu.
Baru saja aku duduk di kursi..
"Bu, ini Dayat.." kata suamiku, nyaris membuat aku terlonjak.
Kemudian suamiku membiarkan kami berdua ngobrol. Suamiku bergabung kembali dengan teman-tamannya, yang sebagian adalah guru Alif, dan sebagian lagi orangtua teman anakku.
Kemudian, sosok kekar kehitaman dengan karakter wajah yang kuat memulai kisahnya.
Hampir tiga tahun kami, aku dan suamiku, kehilangan jejaknya. Dia menghilang tanpa kabar sejak tiba di Jakarta. Kami sempat mempunyai pikiran jelek waktu itu. Mungkin Dayat tidak menyangka sama sekali bahwa kehidupan kami tidaklah seperti apa yang dia bayangkan selama ini. Bahwa kehidupan kami penuh perjuangan berat dan panjang untuk dapat tetap bertahan hidup dengan "normal" menurut ukuran selayaknya metropolitan. Karena itulah, mungkin Dayat lantas pergi meninggalkan kami.
"Bu, hanya satu alasan yang membawa aku sampai ke sini. Aku ingin minta maaf pada Bapak dan Ibu. Telah banyak kesalahan yang kuperbuat akibat kebodohanku sendiri," ujar Dayat membuyarkan lamunanku.
Aku hanya mampu tersenyum. Tapi hatiku berbunga-bunga penuh rasa syukur, anak yang hilang itu telah kembali.
Kemudian dari mulutnya mengalir kisah yang membuatku teriris beribu sembilu, tetapi juga terselip rasa syukur bahwa Allah yang Maha Penyayang dan Maha Pemelihara tidak pernah sedetikpun meninggalkan Dayat.
Awal perkenalanku dengannya Januari 2005. Dari Aceh sana suamiku mengabarkan bahwa dia bertemu dengan seorang remaja yang memerlukan bantuan. Sebenarnya, banyak sekali remaja, bahkan anak-anak, yang bernasib seperti Dayat. Tapi entah kenapa, suamiku jatuh hati pada Dayat. Sudah garis yang ditetapkan Allah...
Calang luluh lantak. Dayat tinggal sebatang kara. Dari keluarganya, yang selamat dari tsunami Aceh 2004 selain dirinya hanyalah adik ayahnya. Dia selamat karena waktu peristiwa terjadi sedang berada di Banda Aceh. Kuliah di Fakultas Pertanian semester tiga.
Seperti suamiku, aku pun menjadi jatuh hati dengan Dayat. Apalagi saat kulihat gambarnya yang sedang mengais-ngais puing bekas rumahnya, mencari foto atau apapun yang tersisa yang dapat "mempertemukan" dirinya dengan keluarganya, muncul di salah satu tv nasional. Aku semakin jatuh hati. Alhamdulillah, salah satu teman suami yang pertama kali bisa menjangkau Calang, sudah mengenal Dayat jauh sebelum tsunami. Jadi aku bisa dengan mudah mengakses dirinya. Sejak itulah kami memutuskan untuk membantu Dayat semampu yang kami bisa lakukan.
Tahun 2008. Setelah Dayat mengabarkan kalau usaha rental mobilnya gagal, dia mengabarkan ingin ke Jakarta. Dayat memang kemudian tidak mau meneruskan kuliahnya, karena ingin buka usaha rental mobil. Pernah juga dia ingin berjualan pulsa dan hp. Sebisa mungkin kami membantu mecari jalan keluarnya.
Kami akhirnya mengusahakan agar Dayat bisa ke Jakarta. Alhamdulillah, suami dapat pekerjaan tambahan. Honor yang didapat pas cukup untuk membeli tiket pesawat sekali jalan Medan-Jakarta.
Baru tiga hari Dayat berada di Jakarta, bermalam di kantor suami karena rumah kontrakan kami tidak memungkinkan untuk menjadi tempat bermalam Dayat, suamiku mengabarkan kalau Dayat pergi tampa pamit, entah ke mana. Suamiku akhirnya mencarinya dengan bantuan teman-temannya yang pernah meliput tsunami Aceh. Tak membawa hasil. Sejak saat itu Dayat menghilang sepeti ditelan bumi. Bahkan saat suamiku melakukan perjalanan keliling Indonesia dengan Zamrud Khatulistiwa-nya, menyempatkan untuk bisa melewati Calang, menemui adik ayahnya Dayat. Bertemu. Tetapi beliaupuh tidak tahu keberadaan Dayat.
Ternyata, dalam menghilangnya itu, Dayat dalam pengembaraan panjang. Perjalanan penuh liku, kadang terjal kelam penuh siksa dan salah. Telah berada di ujung putus asa pun pernah dia alami. Alhamdulillah, buhul tali kasih sayang Allah lebih kuat dari keputusasaannya. Di penghujung perjalanan khilafnya, dia Allah damparkan di sebuah pesantren kecil di Salatiga. Kota yang tidak jauh dari tempat kami sekeluarga sekarang bermukim. Tapi Allah belum berkehendak mempertemukan kami dengan Dayat. Masih perlu waktu beberapa saat. Sampai akhirnya Allah memilihkan Salman, sekolah anakku ini, di kota yang memerlukan waktu lebih lima jam perjalanan dari rumah. Dan Dayat telah menempuh perjalanan penuh liku dan warna dari Palembang nun jauh di sana.
"Dayat, banyak orang yang telah melakukan kesalahan dalam hidupnya. Tetapi sangat langka yang mau dan mampu menyadari kesalahan itu, dan mau mengakui serta memperbaikinya. Bersyukurlah kamu, Dayat, karena Allah memilih dan menghendaki kamu termasuk menjadi golongan yang sedikit itu," kataku setelah Dayat selesai menceritakan kisahnya. "Tidak salah ayahmu memberimu nama Hidayatullah..."
"Iya, Bu. Alhamdulillah, Allah masih memberiku kesempatan..." ujarnya lirih. "Sampai sekarang, aku masih seperti bermimpi."
Penghujung pertemuan kami, aku harus kembali pulang, dia ikut suamiku ke Jakarta untuk meneruskan perjalanan ke Palembang mau pamit ke temannya yang sudah memberi pekerjaan sebagai buruh kasar sebagai kuli angkut besi rel kereta api.
"Dayat, kamu tulislah kisah perjalananmu yang panjang dan penuh liku itu sebagai memoar. Agar pengalamanmu bisa kamu bagi dengan orang banyak."
"Aku tidak bisa menulis, Bu."
"Gampang. Tulis saja apa yang kamu bisa tulis. Nanti biar Bapak yang bantu edit."
Dayat tersenyum. Sedikit tersemburat dari matanya binar kelu, tetapi penuh asa, berhasil aku tangkap sebelum akhirnya aku memasuki peron stasiun.
Biar Dayat sendiri yang mengisahkan perjalanan itu. Perjalanan yang luar biasa hebatnya. Kalau aku yang menuliskan di sini, aku yakin tak akan mungkin bisa sehebat Dayat menceritakannya padaku.
Salman, Cirebon, tempat Alif dua setengah tahun ini menimba ilmu.
Baru saja aku duduk di kursi..
"Bu, ini Dayat.." kata suamiku, nyaris membuat aku terlonjak.
Kemudian suamiku membiarkan kami berdua ngobrol. Suamiku bergabung kembali dengan teman-tamannya, yang sebagian adalah guru Alif, dan sebagian lagi orangtua teman anakku.
Kemudian, sosok kekar kehitaman dengan karakter wajah yang kuat memulai kisahnya.
Hampir tiga tahun kami, aku dan suamiku, kehilangan jejaknya. Dia menghilang tanpa kabar sejak tiba di Jakarta. Kami sempat mempunyai pikiran jelek waktu itu. Mungkin Dayat tidak menyangka sama sekali bahwa kehidupan kami tidaklah seperti apa yang dia bayangkan selama ini. Bahwa kehidupan kami penuh perjuangan berat dan panjang untuk dapat tetap bertahan hidup dengan "normal" menurut ukuran selayaknya metropolitan. Karena itulah, mungkin Dayat lantas pergi meninggalkan kami.
"Bu, hanya satu alasan yang membawa aku sampai ke sini. Aku ingin minta maaf pada Bapak dan Ibu. Telah banyak kesalahan yang kuperbuat akibat kebodohanku sendiri," ujar Dayat membuyarkan lamunanku.
Aku hanya mampu tersenyum. Tapi hatiku berbunga-bunga penuh rasa syukur, anak yang hilang itu telah kembali.
Kemudian dari mulutnya mengalir kisah yang membuatku teriris beribu sembilu, tetapi juga terselip rasa syukur bahwa Allah yang Maha Penyayang dan Maha Pemelihara tidak pernah sedetikpun meninggalkan Dayat.
Awal perkenalanku dengannya Januari 2005. Dari Aceh sana suamiku mengabarkan bahwa dia bertemu dengan seorang remaja yang memerlukan bantuan. Sebenarnya, banyak sekali remaja, bahkan anak-anak, yang bernasib seperti Dayat. Tapi entah kenapa, suamiku jatuh hati pada Dayat. Sudah garis yang ditetapkan Allah...
Calang luluh lantak. Dayat tinggal sebatang kara. Dari keluarganya, yang selamat dari tsunami Aceh 2004 selain dirinya hanyalah adik ayahnya. Dia selamat karena waktu peristiwa terjadi sedang berada di Banda Aceh. Kuliah di Fakultas Pertanian semester tiga.
Seperti suamiku, aku pun menjadi jatuh hati dengan Dayat. Apalagi saat kulihat gambarnya yang sedang mengais-ngais puing bekas rumahnya, mencari foto atau apapun yang tersisa yang dapat "mempertemukan" dirinya dengan keluarganya, muncul di salah satu tv nasional. Aku semakin jatuh hati. Alhamdulillah, salah satu teman suami yang pertama kali bisa menjangkau Calang, sudah mengenal Dayat jauh sebelum tsunami. Jadi aku bisa dengan mudah mengakses dirinya. Sejak itulah kami memutuskan untuk membantu Dayat semampu yang kami bisa lakukan.
Tahun 2008. Setelah Dayat mengabarkan kalau usaha rental mobilnya gagal, dia mengabarkan ingin ke Jakarta. Dayat memang kemudian tidak mau meneruskan kuliahnya, karena ingin buka usaha rental mobil. Pernah juga dia ingin berjualan pulsa dan hp. Sebisa mungkin kami membantu mecari jalan keluarnya.
Kami akhirnya mengusahakan agar Dayat bisa ke Jakarta. Alhamdulillah, suami dapat pekerjaan tambahan. Honor yang didapat pas cukup untuk membeli tiket pesawat sekali jalan Medan-Jakarta.
Baru tiga hari Dayat berada di Jakarta, bermalam di kantor suami karena rumah kontrakan kami tidak memungkinkan untuk menjadi tempat bermalam Dayat, suamiku mengabarkan kalau Dayat pergi tampa pamit, entah ke mana. Suamiku akhirnya mencarinya dengan bantuan teman-temannya yang pernah meliput tsunami Aceh. Tak membawa hasil. Sejak saat itu Dayat menghilang sepeti ditelan bumi. Bahkan saat suamiku melakukan perjalanan keliling Indonesia dengan Zamrud Khatulistiwa-nya, menyempatkan untuk bisa melewati Calang, menemui adik ayahnya Dayat. Bertemu. Tetapi beliaupuh tidak tahu keberadaan Dayat.
Ternyata, dalam menghilangnya itu, Dayat dalam pengembaraan panjang. Perjalanan penuh liku, kadang terjal kelam penuh siksa dan salah. Telah berada di ujung putus asa pun pernah dia alami. Alhamdulillah, buhul tali kasih sayang Allah lebih kuat dari keputusasaannya. Di penghujung perjalanan khilafnya, dia Allah damparkan di sebuah pesantren kecil di Salatiga. Kota yang tidak jauh dari tempat kami sekeluarga sekarang bermukim. Tapi Allah belum berkehendak mempertemukan kami dengan Dayat. Masih perlu waktu beberapa saat. Sampai akhirnya Allah memilihkan Salman, sekolah anakku ini, di kota yang memerlukan waktu lebih lima jam perjalanan dari rumah. Dan Dayat telah menempuh perjalanan penuh liku dan warna dari Palembang nun jauh di sana.
"Dayat, banyak orang yang telah melakukan kesalahan dalam hidupnya. Tetapi sangat langka yang mau dan mampu menyadari kesalahan itu, dan mau mengakui serta memperbaikinya. Bersyukurlah kamu, Dayat, karena Allah memilih dan menghendaki kamu termasuk menjadi golongan yang sedikit itu," kataku setelah Dayat selesai menceritakan kisahnya. "Tidak salah ayahmu memberimu nama Hidayatullah..."
"Iya, Bu. Alhamdulillah, Allah masih memberiku kesempatan..." ujarnya lirih. "Sampai sekarang, aku masih seperti bermimpi."
Penghujung pertemuan kami, aku harus kembali pulang, dia ikut suamiku ke Jakarta untuk meneruskan perjalanan ke Palembang mau pamit ke temannya yang sudah memberi pekerjaan sebagai buruh kasar sebagai kuli angkut besi rel kereta api.
"Dayat, kamu tulislah kisah perjalananmu yang panjang dan penuh liku itu sebagai memoar. Agar pengalamanmu bisa kamu bagi dengan orang banyak."
"Aku tidak bisa menulis, Bu."
"Gampang. Tulis saja apa yang kamu bisa tulis. Nanti biar Bapak yang bantu edit."
Dayat tersenyum. Sedikit tersemburat dari matanya binar kelu, tetapi penuh asa, berhasil aku tangkap sebelum akhirnya aku memasuki peron stasiun.
Biar Dayat sendiri yang mengisahkan perjalanan itu. Perjalanan yang luar biasa hebatnya. Kalau aku yang menuliskan di sini, aku yakin tak akan mungkin bisa sehebat Dayat menceritakannya padaku.
Sabtu, 12 Juni 2010
TURI
Komunikasi yang baik adalah hal yang sangat penting agar apa yang ingin kita tuju sesuai dengan yang kita mau...
Namanya Turi. Wajahnya masih menyisakan sakit setelah operasi. Terlihat dari tangannya yang menekan perut bawah kanannya dan bibirnya yang setengah meringis. Tetapi yang menarik perhatianku adalah kegalauan wajahnya. Hatiku berdesir. Kuatir dia akan menyalahkanku atas operasi tersebut.
Akhirnya dia mau menjalani operasi, setelah empat bulan lebih aku membujuknya. Itupun karena dia mulai merasa terganggu. Setiap melakukan aktifitas benjolan di selangkangannya itu semakin membesar. Jelas itu sangat mengganggu pekerjaannya sebagai buruh pabrik. Dan, dua pekan lalu dia menyerah, takluk. Meskipun dengan wajah sedikit pias menahan rasa takut dioperasi, dia menyatakan siap untuk dioperasi. Dan, kubuatkanlah surat rujukan untuk operasi hernianya itu. Sambil masih kuulang-ulang, bahwa operasi hernia itu bukan operasi yang mengerikan, meskipun semua operasi selalu ada risiko.
"Kenapa, Pak? Beres, kan, operasinya?"
"Alhamdulilah, Dok..."
Tangannya menggaruk kepala pelontosnya yang mulai ditumbuhi rambut baru.
"Dokter lihat, tidak, perubahan ini?"
"Apa?"
"Masa Dokter tidak melihatnya?"
Tangannya masih mengusap-usap kepalanya.
"Kepala gundul saya ini, lho, Dok. Masa Dokter tidak melihatnya, sih?"
"Kalau kepala Bapak yang gundul, saya melihatnya, Pak. Tapi, apanya yang aneh?"
Dia diam sejenak, sebelum akhirnya bercerita.
Sehari sebelum operasi, setelah menyerahkan semua hasil laboratorium dan foto dada, dia diperbolehkan pulang, setelah diberitahu persiapan apa saja yang harus dilakukan di rumah. Persiapan sebelum operasi boleh dari rumah. Ketika langkah kakinya mencapai pintu ruang periksa, seorang perawat memanggilnya.
"Pak, jangan lupa besok rambutnya digunduli, ya," ujar perawat itu.
Turi mengiyakan instruksi itu. Dari rumah sakit dia langsung menuju tempat pangkas rambut langganannya. Dan, gundullah kepalanya kini.
Di kamar operasi,
"Sudah digundul, belum, Pak?" tanya perawat itu.
"Lha, Suster, kan, sudah lihat sendiri kepala saya sudah pelontos?"
Perawat itu terlonjak kaget.
"Ngapain kepala ikut-ikutan digunduli? Maksud saya, rambut kemaluan Bapak. Sudah dicukur, belum?"
"Hhhhaaaa..???" gantian Turi yang terperanjat kaget.
"Kemarin, kan, Suster sendiri yang bilang saya harus gundul?"
"Aduh, Bapak..Bapak.. Maksud saya rambut yang di bawah. Kan, yang mau dioperasi daerah selangkangan, Pak."
Turi malu ketika semua orang yang ada di ruangan operasi itu tertawa.
"Saya malu, Dok, atas kebodohan saya..."
Itulah yang menyebabkan wajah Turi galau.
Ternyata....
Namanya Turi. Wajahnya masih menyisakan sakit setelah operasi. Terlihat dari tangannya yang menekan perut bawah kanannya dan bibirnya yang setengah meringis. Tetapi yang menarik perhatianku adalah kegalauan wajahnya. Hatiku berdesir. Kuatir dia akan menyalahkanku atas operasi tersebut.
Akhirnya dia mau menjalani operasi, setelah empat bulan lebih aku membujuknya. Itupun karena dia mulai merasa terganggu. Setiap melakukan aktifitas benjolan di selangkangannya itu semakin membesar. Jelas itu sangat mengganggu pekerjaannya sebagai buruh pabrik. Dan, dua pekan lalu dia menyerah, takluk. Meskipun dengan wajah sedikit pias menahan rasa takut dioperasi, dia menyatakan siap untuk dioperasi. Dan, kubuatkanlah surat rujukan untuk operasi hernianya itu. Sambil masih kuulang-ulang, bahwa operasi hernia itu bukan operasi yang mengerikan, meskipun semua operasi selalu ada risiko.
"Kenapa, Pak? Beres, kan, operasinya?"
"Alhamdulilah, Dok..."
Tangannya menggaruk kepala pelontosnya yang mulai ditumbuhi rambut baru.
"Dokter lihat, tidak, perubahan ini?"
"Apa?"
"Masa Dokter tidak melihatnya?"
Tangannya masih mengusap-usap kepalanya.
"Kepala gundul saya ini, lho, Dok. Masa Dokter tidak melihatnya, sih?"
"Kalau kepala Bapak yang gundul, saya melihatnya, Pak. Tapi, apanya yang aneh?"
Dia diam sejenak, sebelum akhirnya bercerita.
Sehari sebelum operasi, setelah menyerahkan semua hasil laboratorium dan foto dada, dia diperbolehkan pulang, setelah diberitahu persiapan apa saja yang harus dilakukan di rumah. Persiapan sebelum operasi boleh dari rumah. Ketika langkah kakinya mencapai pintu ruang periksa, seorang perawat memanggilnya.
"Pak, jangan lupa besok rambutnya digunduli, ya," ujar perawat itu.
Turi mengiyakan instruksi itu. Dari rumah sakit dia langsung menuju tempat pangkas rambut langganannya. Dan, gundullah kepalanya kini.
Di kamar operasi,
"Sudah digundul, belum, Pak?" tanya perawat itu.
"Lha, Suster, kan, sudah lihat sendiri kepala saya sudah pelontos?"
Perawat itu terlonjak kaget.
"Ngapain kepala ikut-ikutan digunduli? Maksud saya, rambut kemaluan Bapak. Sudah dicukur, belum?"
"Hhhhaaaa..???" gantian Turi yang terperanjat kaget.
"Kemarin, kan, Suster sendiri yang bilang saya harus gundul?"
"Aduh, Bapak..Bapak.. Maksud saya rambut yang di bawah. Kan, yang mau dioperasi daerah selangkangan, Pak."
Turi malu ketika semua orang yang ada di ruangan operasi itu tertawa.
"Saya malu, Dok, atas kebodohan saya..."
Itulah yang menyebabkan wajah Turi galau.
Ternyata....
Langganan:
Postingan (Atom)