Jumat, 04 Maret 2011
ANAKKU
Kamis, 24 Februari 2011
MASA -MASA KULIAH
Kalau ditanya pengalaman yang tidak bisa terlupakan selama masa kuliah, dengan cepat dan sigap tentu akan kujawab “Kantor Polisi!”
Aku lupa saat co-ass stase di mana. Yang jelas, aku habis jaga malam. Selesai mengikuti visite dan presentasi kasus, aku lelah dan ngantuk yang sangat. Eliza – semoga Allah merahmatinya – sepertinya sangat mengerti kondisi tidak sehatku itu. Ia mengangsurkan kunci motor, “Ini, Kum, pakai saja. Kamu pulang, gih, sana, biar bisa tidur.”
Kuterima kunci itu dengan penuh terima kasih. Sempoyongan menahan kantuk, aku menuju tempat parkir di belakang gedung perawatan rumah sakit. Dalam kantukku, tempat yang biasanya hanya ditempuh tak lebih lima menit, terasa sangat jauh. Begitu melihat motornya Eliza, langsung saja kumasukkan kunci motor dan kustarter tanpa peduli untuk menyocokkan plat nomor polisinya. Berhasil. Melajulah pulang ke kos-kosan. Langsung tertidur lelap sesampainya. Terbangun ketika suara Eliza menggedor dinding telingaku.
Kantukku seketika hilang. Eliza bilang aku salah membawa motor. Dan terdengar kabar bahwa Harry Poerwoko kehilangan motor. Kacau!
Akhirnya aku diantar Eliza, Djoko, dan Cahyono ( matur nuwun, semoga Allah membalas kebaikan kalian semua ) menuju rumah Harry untuk “menukar” motor. Terlambat! Harry sedang ke kantor polisi Mlati. Kami segera mengejarnya ke sana.
Seumur hidupku itulah pertama kali – dan semoga yang terakhir kali juga – aku diperiksa di kantor polisi. Seluruh tubuh basah karena banjir keringat, akibat dentuman jantung yang tidak terkendali. Takutku melumat habis tulang-belulangku.
Selesai dimintai keterangan, aku disuruh untuk merekonstruksi menghidupkan motor yang kubawa ( motornya Harry, yang sama merk dengan punya Eliza ) dengan kunci yang kupegang ( kunci motor Eliza ). Alhamdulillah, motor bisa menyala. ( Bayangkan kalau tiba-tiba motor ngadat nggak mau hidup! Meskipun para sahabat bisa melihat bahwa dengan motor Harry-lah aku dibonceng Cahyono ke rumah Harry dan ke kantor polisi, ngeri juga membayangkan seandainya motor ngadat di depan polisi pemeriksa. Hiiiii.... )
Allah mengingatkanku dengan cara-Nya. Dari peristiwa ini, kuazzamkan, aku nggak akan teledor lagi. Celaka dua belas kalau tidak teliti. Dalam kondisi apa dan bagaimanapun, profesi dokter menuntut untuk tetap teliti.
***
Aku juga mempunyai pengalaman lain. Waktu itu, sih, pengalaman tersebut sangat menyebalkan. Tetapi sekarang, ketika mengingatnya, lucu dan menyenangkan...( terima kasih kepada Nugroho, Cahyono, Djoko, Eliza, dan Retno yang telah menjadi teman perjalanan kisah ini, juga kepada sang dosen yang telah mengajarkan makna berjuang )
Mendekati judicium Sumpah Dokter. Hanya IKK yang belum keluar nilainya. Padahal tenggat waktu sudah mepet. Itu gara-gara seorang dosen yang nggak mau memberi nilai responsi. Dari rayuan maut manis setengah mati sampai gebrak-gebrakan meja, sang dosen tetap bergeming. Beliau tetap tidak mau memberi nilai. Duh, berkuasa laksana Tuhan, di hadapan kami sahaya tak berdaya. Entah apa yang ada dalam benak beliau, meninggalkan kami pergi ke Solo. Sahaya tak berdaya yang berjumlah ( kalau tidak salah ) enam orang ternyata digdaya. Kami kejar sang dosen penuh semangat murka para dewasa setengah matang.
Bertanya kepada yang empunya rumah, sang dosen sedang pergi keluar. Keenam wajah kecewa mendengarnya. Tapi, aku tidak ingat apakah ada serapah yang keluar. Yang terpateri dalam ingatan, akhirnya kami memutuskan untuk menunggu di halaman seberang rumahnya. Mengintai bak detektif Conan, kiranya sang dosen segera pulang. Tunggu punya tunggu, tak juga harapan muncul. Hingga rembulan yang menemani kami mulai tergelincir ke arah barat. Terserang rasa kantuk dan lelah, kami menyerah dan pulang. Bermalam di rumah Nugroho.
Pagi sekali pompa semangat dihembuskan ayah Nugroho. Melesatlah kami kembali ke rumah sang dosen ketika matahari baru saja sejengkal dari cakrawala. Ternyata sang dosen sedang berlibur di Tawangmangu. Menyerahkah kami? Tidak! Karena kalau menyerah, artinya kami harus menunggu periode berikutnya untuk ikut Sumpah Dokter baru. Yang entah berapa bulan lagi.
Seharusnya perjalanan ke Tawangmangu adalah perjalanan wisata yang menyenangkan. Tapi, jangankan tawa riang, bahkan kata-kata pun hanya hitungan jari. Kami kehilangan warna jiwa kami, yang biasanya penuh canda dan gelak tawa...
Alhamdulillah, tak sulit menemukan vila tempat sang dosen bermalam. Beliau keluar menemui kami. Dengan senyum! Aku menangkapnya sebagai sesungging kemenangan. Tapi, ah, ini bukan tentang menang-kalah karena memang bukan ajang perlombaan. Buku responsi akhirnya bertandatangan beliau.
Bak lesatan anak panah yang dilepaskan dari busurnya, Nugroho membawa kami pulang langsung menuju fakultas karena tenggat waktu hari itu jam dua siang.
Lihatlah kawan, foto kami di depan Balairung menjelang sumpah diselenggarakan. Semua tersenyum bahagia. Tidak ada lagi jejak-jejak penat dan lelah – baik fisik maupun psikis – yang menyemaskan sepanjang perjalanan pencapaian menuju seorang dokter! Kami diberinya jalan berliku menujunya agar kami mampu untuk selalu bersyukur dan tetap menggenggam semangat di kalbu dalam setiap langkah kehidupan yang tidak selamanya mulus seperti jalan tol.
Rabu, 09 Februari 2011
marwati
Marwati namanya. Setelah lama tidak kelihatan untuk berobat, tiba-tiba muncul begitu saja ketika aku sedang merapikan register dan kartu status selesai praktik. Duduk di depanku dengan wajah kusut berselimut pucat seperti tak berdarah.
Marwati. Seorang istri dari buruh pabrik, ibu dua orang anak dan nenek satu cucu. Sehari-hari bekerja sebagai pengasuh cucu dari anak sulungnya demi mendapatkan tambahan penghasilan untuk biaya sekolah anak bungsunya yang kelas 3 di sebuah SMK. Karena untuk bekerja yang lain tidak mungkin baginya. Terhalang keringkihan tubuh yang sering digempur rasa sakit di kepala akibat darah tingginya.
Marwati. Dibandingkan dengan pasien lain, termasuk keluarga pasien yang kaya secara materi. Berbeda dengan keluarga-keluarga pasien lain yang setiap bulan harus merelakan upah buruhnya yang tak seberapa itu untuk dipotong membayar kontrakan rumah, Marwati tidak harus memikirkan hal itu. Rumah petak warisan orangtuanya menjadikan keluarganya bisa bernafas lebih lega.
Masalah yang dihadapi pasienku adalah masalah kesehatan yang selalu berpilin tak berpangkal-ujung berkelindan dengan kemiskinan. Sebagian besar masalah yang dikeluhkan di ruang praktik sebenarnya bukanlah masalah kesehatan itu sendiri, melainkan kemiskinan demi kemiskinan yang setia mengintai di setiap sudut kehidupan mereka.
Karena itulah aku merasa perlu mempunyai waktu lebih untuk menampung luapan cerita pasienku yang seperti tak kan pernah habis ketika ruh masih menyatu dengan tubuh. Untuk pemenuhan kebutuhan waktu tersebut, dan terkadang untuk menghilangkan kejenuhanku, aku agak sering melakukan kunjungan rumah. Karena kalau hanya mengandalkan waktu jadwal praktik yang tak seberapa lamanya itu tidak akan cukup untuk semua cerita itu.
Marwati. Dibuka dengan permintaan maaf karena telah datang siang-siang tanpa janjian, permintaan akan pengertianku sehingga aku harus pulang sangat lambat, datang bukan sebagai pasien, dari mulutnya kemudian meluncur cerita seperti air bah. Tak terbendung lagi.
Cerita itu bermula dari lebih tiga bulan lalu. Hari ketika dia mengalami kecelakaan yang menyebabkan harus dirawat di rumah sakit karena patah tulang kaki kirinya. Karena harus menunggui dirinya selama perawatan itu dan harus bolak-balik mengantar kontrol ke rumah sakit, suaminya harus kehilangan pekerjaan. Dipecat dari pabrik tempatnya bekerja.
Harta benda terkuras untuk biaya operasi dan berobat disusul tidak ada penghasilan karena pemecatan itu, akhirnya terjerat dalam cekikan rentenir. Hanya rentenirlah yang bersedia membuka kesempatan untuk memberi hutangan. Tanpa ada syarat, tanpa harus ada agunan. Prosesnya cepat. Secepat ia kemudian mencekik dan melilitnya hingga tidak bisa berkutik.
Cerita itu berujung pada sebuah tanya.
“Dok, bisa tidak orang hidup hanya dengan satu ginjal?”
Aku terpaku. Tubuhku meregang. Dadaku sesak, penuh dengan cemas. Sangat jelas bagiku arah pertanyaan itu. Dan seperti tahu apa yang bergolak dalam benakku, ia melanjutkan pertanyaan itu.
“Ada tetangga. Istrinya harus cangkok ginjal. Saya mau memberikan satu ginjal saya. Dan tetangga saya itu mau melunasi semua hutang-hutang saya. Tadinya suami saya yang mau diambil ginjalnya, tapi saya pikir dia, kan, laki-laki, harus bekerja untuk cari nafkah. Kasihan kalau harus hanya punya satu ginjal. Kalau saya, kan, cuma di rumah. Bisa tidak, Dok, orang hidup hanya dengan satu ginjal? Dan bagaimana menurut agama, boleh tidak saya memberikan ginjal saya?”
Kutatap wajah itu lekat-lekat. Wajah yang setiap berobat selalu membawa tawa dan canda, sekarang pias seakan tak bernyawa.
“Saya sudah lelah bersembunyi, Dok, setiap hari diuber-uber tagihan hutang yang tidak berkurang, malah semakin berlipat-lipat jumlahnya.”
Wajah itu terpuruk di tubuh yang tak berdaya. Menggelesot jatuh ke atas meja. Sesak. Matanya tak beranjak dari tatapanku. Hanya saja sekarang kian redup.
“Hidup dengan satu ginjal, bisa. Tapi proses cangkok ginjal tidak semudah yang Ibu bayangkan. Perlu bermacam-macam pemeriksaan, baik terhadap Ibu maupun tetangga Ibu itu. Apalagi riwayat kesehatan Ibu selama ini, kan, kurang baik. Kalaupun Ibu bisa memberikan ginjal Ibu, belum tentu juga cocok baginya. Kalau menurut agama, saya tidak bisa menjawabnya, Bu.”
Ruangan menjadi kosong sementara. Sunyi menjadi nyanyian hati di antara kami. Wajah pias itu bangun dari atas meja, mencoba berlabuh di sandaran kursi. Dan aku, meluapkan rasa dengan menggumamkan nama Yang Maha Perkasa di setiap relung hati. Seluruh yang ada dalam tubuh ini hanya pinjaman dari Allah Sang Pemilik. Mungkinkah barang pinjaman dapat kita barterkan ke pihak lain? Bukankah apa yang diutarakan Marwati tadi itu bisa disebut sebuah barter? Marwati perlu hutang-hutangnya terlunaskan, tetangganya membutuhkan sebuah ginjal?
“Memangnya tidak ada lagi yang bisa dijual, Bu?”
“Rumah sudah kosong, Dok. Tidak punya apa-apa lagi.”
Aku tersentak seperti baru terbangun dari mimpi yang sangat melelahkan.
“Rumah??” ujarku nyaris berteriak.
Lunglai, tubuh yang luruh itu kembali berisi tulang. Tegak dari sandaran kursi. Kedua tangannya berjalin saling meremas.
“Memang kemarin sudah ada yang menawar enam puluh juta. Tapi, masa iya saya harus tidak punya rumah, sih, Dok?” ujarnya lirih.
Mataku menatapnya lekat, tak mampu kutahan lagi.
“Apa salahnya dengan tidak punya rumah?” Tubuh lelah ini serasa mendapat suntikan energi yang luar biasa. Kuraih tangan yang berpilin saling meremas itu. “Pikirkan, enam puluh juta! Kalau saya jadi Bu Mar, saya terima penawaran itu. Sepuluh juta untuk melunasi hutang. Sembilan juta bisa kontrak rumah sederhana selama tiga tahun. Apa bedanya rumah sendiri dan kontrakan? Bersyukur meski kontrak, ada rumah. Bisa terhindar dari terik dan hujan. Bisa tidur tanpa harus berselimutkan angin malam. Dan sepuluh juta untuk modal usaha. Sisanya ditabung...Bu Mar masih kaya!” Kugenggam semakin erat kedua tangannya itu. Nafasku nyaris tersengal. Ah, ternyata permasalahannya tidaklah serumit yang aku kira!
**
Marwati. Tak lebih dari dua bulan setelah kejadian itu.
Sebuah pesan singkat kuterima. Isinya “Dok, alhamdulillah saya sudah dapat berdamai dengan diri sendiri. Tak punya rumah tidak mengapa. Saya lega. Terbebas dari hutang. Merdeka dari rasa takut dan cemas. Sepertinya saat ini sayalah orang yang paling bahagia di dunia ini..Terima kasih ya Dok.”
Aku tersenyum. Bahagia dan syukur memenuhi seluruh sudut hatiku.
Marwati. Telah kutemukan kembali sosoknya yang sempat hilang.
Desember 2008
Minggu, 09 Januari 2011
J. Hidayatullah
Salman, Cirebon, tempat Alif dua setengah tahun ini menimba ilmu.
Baru saja aku duduk di kursi..
"Bu, ini Dayat.." kata suamiku, nyaris membuat aku terlonjak.
Kemudian suamiku membiarkan kami berdua ngobrol. Suamiku bergabung kembali dengan teman-tamannya, yang sebagian adalah guru Alif, dan sebagian lagi orangtua teman anakku.
Kemudian, sosok kekar kehitaman dengan karakter wajah yang kuat memulai kisahnya.
Hampir tiga tahun kami, aku dan suamiku, kehilangan jejaknya. Dia menghilang tanpa kabar sejak tiba di Jakarta. Kami sempat mempunyai pikiran jelek waktu itu. Mungkin Dayat tidak menyangka sama sekali bahwa kehidupan kami tidaklah seperti apa yang dia bayangkan selama ini. Bahwa kehidupan kami penuh perjuangan berat dan panjang untuk dapat tetap bertahan hidup dengan "normal" menurut ukuran selayaknya metropolitan. Karena itulah, mungkin Dayat lantas pergi meninggalkan kami.
"Bu, hanya satu alasan yang membawa aku sampai ke sini. Aku ingin minta maaf pada Bapak dan Ibu. Telah banyak kesalahan yang kuperbuat akibat kebodohanku sendiri," ujar Dayat membuyarkan lamunanku.
Aku hanya mampu tersenyum. Tapi hatiku berbunga-bunga penuh rasa syukur, anak yang hilang itu telah kembali.
Kemudian dari mulutnya mengalir kisah yang membuatku teriris beribu sembilu, tetapi juga terselip rasa syukur bahwa Allah yang Maha Penyayang dan Maha Pemelihara tidak pernah sedetikpun meninggalkan Dayat.
Awal perkenalanku dengannya Januari 2005. Dari Aceh sana suamiku mengabarkan bahwa dia bertemu dengan seorang remaja yang memerlukan bantuan. Sebenarnya, banyak sekali remaja, bahkan anak-anak, yang bernasib seperti Dayat. Tapi entah kenapa, suamiku jatuh hati pada Dayat. Sudah garis yang ditetapkan Allah...
Calang luluh lantak. Dayat tinggal sebatang kara. Dari keluarganya, yang selamat dari tsunami Aceh 2004 selain dirinya hanyalah adik ayahnya. Dia selamat karena waktu peristiwa terjadi sedang berada di Banda Aceh. Kuliah di Fakultas Pertanian semester tiga.
Seperti suamiku, aku pun menjadi jatuh hati dengan Dayat. Apalagi saat kulihat gambarnya yang sedang mengais-ngais puing bekas rumahnya, mencari foto atau apapun yang tersisa yang dapat "mempertemukan" dirinya dengan keluarganya, muncul di salah satu tv nasional. Aku semakin jatuh hati. Alhamdulillah, salah satu teman suami yang pertama kali bisa menjangkau Calang, sudah mengenal Dayat jauh sebelum tsunami. Jadi aku bisa dengan mudah mengakses dirinya. Sejak itulah kami memutuskan untuk membantu Dayat semampu yang kami bisa lakukan.
Tahun 2008. Setelah Dayat mengabarkan kalau usaha rental mobilnya gagal, dia mengabarkan ingin ke Jakarta. Dayat memang kemudian tidak mau meneruskan kuliahnya, karena ingin buka usaha rental mobil. Pernah juga dia ingin berjualan pulsa dan hp. Sebisa mungkin kami membantu mecari jalan keluarnya.
Kami akhirnya mengusahakan agar Dayat bisa ke Jakarta. Alhamdulillah, suami dapat pekerjaan tambahan. Honor yang didapat pas cukup untuk membeli tiket pesawat sekali jalan Medan-Jakarta.
Baru tiga hari Dayat berada di Jakarta, bermalam di kantor suami karena rumah kontrakan kami tidak memungkinkan untuk menjadi tempat bermalam Dayat, suamiku mengabarkan kalau Dayat pergi tampa pamit, entah ke mana. Suamiku akhirnya mencarinya dengan bantuan teman-temannya yang pernah meliput tsunami Aceh. Tak membawa hasil. Sejak saat itu Dayat menghilang sepeti ditelan bumi. Bahkan saat suamiku melakukan perjalanan keliling Indonesia dengan Zamrud Khatulistiwa-nya, menyempatkan untuk bisa melewati Calang, menemui adik ayahnya Dayat. Bertemu. Tetapi beliaupuh tidak tahu keberadaan Dayat.
Ternyata, dalam menghilangnya itu, Dayat dalam pengembaraan panjang. Perjalanan penuh liku, kadang terjal kelam penuh siksa dan salah. Telah berada di ujung putus asa pun pernah dia alami. Alhamdulillah, buhul tali kasih sayang Allah lebih kuat dari keputusasaannya. Di penghujung perjalanan khilafnya, dia Allah damparkan di sebuah pesantren kecil di Salatiga. Kota yang tidak jauh dari tempat kami sekeluarga sekarang bermukim. Tapi Allah belum berkehendak mempertemukan kami dengan Dayat. Masih perlu waktu beberapa saat. Sampai akhirnya Allah memilihkan Salman, sekolah anakku ini, di kota yang memerlukan waktu lebih lima jam perjalanan dari rumah. Dan Dayat telah menempuh perjalanan penuh liku dan warna dari Palembang nun jauh di sana.
"Dayat, banyak orang yang telah melakukan kesalahan dalam hidupnya. Tetapi sangat langka yang mau dan mampu menyadari kesalahan itu, dan mau mengakui serta memperbaikinya. Bersyukurlah kamu, Dayat, karena Allah memilih dan menghendaki kamu termasuk menjadi golongan yang sedikit itu," kataku setelah Dayat selesai menceritakan kisahnya. "Tidak salah ayahmu memberimu nama Hidayatullah..."
"Iya, Bu. Alhamdulillah, Allah masih memberiku kesempatan..." ujarnya lirih. "Sampai sekarang, aku masih seperti bermimpi."
Penghujung pertemuan kami, aku harus kembali pulang, dia ikut suamiku ke Jakarta untuk meneruskan perjalanan ke Palembang mau pamit ke temannya yang sudah memberi pekerjaan sebagai buruh kasar sebagai kuli angkut besi rel kereta api.
"Dayat, kamu tulislah kisah perjalananmu yang panjang dan penuh liku itu sebagai memoar. Agar pengalamanmu bisa kamu bagi dengan orang banyak."
"Aku tidak bisa menulis, Bu."
"Gampang. Tulis saja apa yang kamu bisa tulis. Nanti biar Bapak yang bantu edit."
Dayat tersenyum. Sedikit tersemburat dari matanya binar kelu, tetapi penuh asa, berhasil aku tangkap sebelum akhirnya aku memasuki peron stasiun.
Biar Dayat sendiri yang mengisahkan perjalanan itu. Perjalanan yang luar biasa hebatnya. Kalau aku yang menuliskan di sini, aku yakin tak akan mungkin bisa sehebat Dayat menceritakannya padaku.
