Tampilkan postingan dengan label pribadi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pribadi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 23 Februari 2014

PINTAKU

Catatan yang tercecer

Sabtu, 18 Agustus 2012

Ramadhan kali ini terasa lebih dan sangat sepi.
Pintaku pada-Mu Robb, Allah Yang Maha Pemberi,
jagalah hati ini tetap ramai menyerumu...

Ramadhan kali ini terasa lebih pedih...
terbelah dalam dua sunyi, meski berakhir pada muara yang sama..
Ampuni kami duhai Allah, Robb Sang Maha Pengampun,
Kasihanilah kami wahai Allah, Robb yang Maha Rahim,
Terimalah ibadah Ramadhan kami, ya Allah, Robb yang Maha Mengabulkan doa,
meski tak sempurna Ramadhan kami,
meski tak seindah Ramadhan-ramadhan yang lalu... 
Jangan masukkan kami ke dalam golongan yang merugi,
tetapi masukkan kami ke dalam golongan yang mendapat kemuliaan Ramadhan...

Rabu, 16 Januari 2013

RINDU


bukan hendak mengubur rindu
hanya ingin melerai nafsu
tak ada sapa, tak ada tanya
bukan berarti tak ada doa

biarkan segala tak menjadi sia-sia
doa kupinta padaNya
semoga kan bermuara pada surga
hingga kubisa menumpahkan
segala harap dan damba

bukan hendak mengubur rindu
hanya ingin melerai nafsu
cukup Allah muara semua rindu
agar cinta tak menjadi sia-sia


*tanggal ini dua puluh tahun lalu
prasasti perjanjian mulia diikrarkan 
di atas namaNya Yang Maha Pemurah*

Jumat, 05 Oktober 2012

dr. Dyah



Sehari menjelang mengikuti Bimbingan Teknis Standar Akreditasi Baru di Bandungan, bersama Direktur dan Ketua Yayasan.... Begitu saja teringat dr. Dyah....
*dr. Dyah, beginilah cara saya membangun semangat diri agar tetap dapat bertahan di sepanjang perjalanan akreditasi yang lalu*

***


(Selasa, 5 Juni 2012 22.24)

Dear dr. Dyah....
Saya bersyukur dipertemukan dengan dr. Dyah...
Ijinkan saya mundur beberapa langkah, menapaktilasi perjalanan yang berujung pada pertemuan kita. Saya menolak masuk sebuah rumah sakit, tapi tak kuasa untuk tidak menerima tawaran ketua yayasan rumah sakit ini, yang membuat beberapa orang bertanya kenapa. Dan dr. Dyah tak mau menerima tawaran ke Lampung, tapi semangat berkunjung ke kota kami. Semuanya terlihat begitu indah, tertata dengan rapi, penuh perhitungan yang seksama sehingga terbentuk harmoni yang menakjubkan. Saya baru mulai bisa memandangnya sekarang. Alangkah indahnya, meski saya berjalan hanya mengikuti aliran tempat menuju..... *Tatkala perjalanan ini bersandar pada aliran arus-Nya, tak perlu banyak tanya meski awalnya tak paham arah. Tak usah bingung meski tak mengerti. Asal tujuan kita pasti - semata hanya karena Allah, insya Allah kita tak kan tersesat. (terngiang nasehat seorang sahabat)*

(Rabu, 6 Juni 2012 22.19)

Dear dr. Dyah...
Hari ini saya masuk kerja dengan mata yang sembab sangat. Saya tidak peduli. Hampir semua mata yang beradu dengan mata sembab saya bermimik penuh tanya. Kenapa saya harus peduli?
Hanya teman saya berdua itu yang tak menanyakan apapun. Mereka telah tahu. Semalam, sms dr. Dyah telah saya forward ke mereka berdua. “Njuk, piye, jaaaal...?” Bunyi sms yang sama dari mereka berdua serentak bersambung. Kita harus tetap semangat, kata saya. Ah, sebenarnya kata itu saya tujukan hanya untuk diri sendiri karena begitu saja jiwa ini terpuruk luruh. Bukan soal bisa atau tidak bisanya konsultasi lagi yang jadi sebab. Bukan soal itu. Luruh ini semata karena takut kehilangan...

Dear dr. Dyah...
Rentang perjalanan di episode akreditasi ini, saya telah kehilangan banyak hal. Dan semua itu menjadi sebuah kemewahan yang semakin saya rindukan dalam ketakberdayaan.

(Kamis, 7 Juni 2012 22.37)

Dear dr. Dyah....
Saya bersyukur dipertemukan dengan dr. Dyah...
Alangkah lucunya sehari tadi... Baru sehari tadi, Dok... Sehari. Sehari tidak ada e-mail dari dr. Dyah, kami sudah merasa kehilangan... Entah berapa kali kami bergantian mengintip inbox e-mail di sela kesibukan kami menata ulang dokumen seraya mengoreksinya, berharap ada sebuah - sebuah saja -  e-mail dr. Dyah menyapa kami. E-mail yang membuat kami terpompakan semangatnya. E-mail yang membuat kami tertawa kegirangan. E-mail yang membuat kami merasa begitu dekat dengan dr. Dyah walaupun dr. Dyah nun jauh di sana. E-mail yang membuat kami merasa bahwa dr. Dyah adalah teman seperjalanan kami yang menyenangkan dalam menempuh akreditasi ini.
Baru sehari tanpa e-mail dr. Dyah, kami telah kehilangan....

Dear dr. Dyah....
Alhamdulillah, meskipun harus kehilangan banyak hal saya bersyukur diberi kesempatan oleh Allah untuk belajar sesuatu yang sama sekali baru bagi saya.
Periode ini tidak akan terlupa. Meski di rentang perjalanannya sering membuat jiwa luruh di titik nadir. Meski ujung episodenya belum terlihat bentuknya. Saya akan selalu memandangnya dengan pandangan yang sama yang sering dr. Dyah sampaikan, indah terasa. Kehendak Allah terasa indah pada saatnya.

(Jum’at , 8 Juni 2012 22.23)

Dear dr. Dyah....
“Ceria sekali, sudah dapat kabar apa dari dr. Dyah?” sapa Ketua Yayasan di ujung anak tangga siang tadi. Saya tersenyum, “Standar 7 sudah dibalas, Bu.”
Gara-gara mata sembab saya beberapa hari lalu itu, Ketua Yayasan selalu menunggu saya di ujung anak tangga untuk sekadar menanyakan kabar dr. Dyah.

Dear dr. Dyah...
Pagi tadi kehebohan pecah di ruang apotek karena BBM-an dr. Dyah dengan mereka.
“Lihat, nih, lihat... Masa’ gini banget, sih? bla...bla...bla...jujur, ya, berat untuk lulus...”
Saya tersenyum getir. Bukan karena kabar itu, tentu.
“Apa yang akan terjadi kalau dr. Dyah bilang bisa lulus?” saya bertanya sambil melerai jiwa yang gelisah.
“Kita akan lengah. Menjadi santai karena sudah merasa bisa lulus,” sambung saya tatkala matanya tertuju pada pertanyaan saya tanpa jawab. “Jadikan kata-kata dr. Dyah sebagai cambuk, kerja semaksimal mungkin dan berdoa. Hasilnya serahkan kepada ALLOH. Beres, kan?”
Ah, lagi-lagi, sebenarnya kata-kata itu saya tujukan untuk diri saya sendiri.

Dear dr. Dyah...
Rumah sakit ini adalah salah satu sekolah saya... 
Saya selalu didera kegelisahan sejak kepulangan saya di kota ini. Dan kegelisahan itu semakin menampakkan bentuknya setelah saya diberi ALLOH kesempatan untuk bergabung di rumah sakit ini.

(Sabtu, 9 Juni 2012 22.28)

Dear dr. Dyah...
Semenjak bimbingan, Sabtu adalah jadwal duduk bersama antara Yayasan, Direktur, dan Tim Akreditasi....
Kembali dr. Dyah menjadi trending topic... Ketua Tim Akreditasi menanyakan kepada saya, apakah begitu juga dr. Dyah kepada pokja saya. Serentak bertiga menjawab tidak...”Saya baca komentarnya, kesannya dr. Dyah ini kok kecewa sekali, marah,” lanjutnya.
Kami bertiga tetap dalam diam karena tidak tahu harus berkata apa.

(Ahad, 10 Juni 2012 23.33)

Dear dr. Dyah...
Terbangun dari tidur yang tak pernah lagi bisa nyenyak sejak episode ini...
Malu sebenarnya menyampaikan hal ini... Kesemrawutan yang nyaris sempurna...

(Senin, 11 Juni 2012 23.40)

Dear dr. Dyah...
Sepulang mengirim buku, saya dibanjiri semangat yang luar biasa dahsyatnya. Tak peduli menjadi sendiri di pojok ruang karena kedua teman saya pulang awal, target hari ini saya kebut. Alhamdulillaah....

Dear dr. Dyah...
Saya akan menunaikan janji yang diamanahkan kepada saya semampu yang saya bisa kerjakan. Semaksimal mungkin. Tak peduli lagi, apa hasil yang akan didapatkan. ALLOH Maha Tahu kehendak-Nya yang lebih baik dari keinginan saya.

Dear dr. Dyah...
Semangat itu menjadikan saya mendapatkan kembali sebagian apa yang telah hilang sebelumnya. Saya baru menyadari bahwa telah begitu lama tak memperhatikan ikan-ikan di kolam *memaksa saya menyari dedaunan di ujung keremangan senja*. Bisa menikmati detil lain meskipun sudah berkali-kali nonton Blood Diamond. Bisa kembali asyik membaca buku... Alhamdulillah Robb-ku, takdir-Mu di atas kehendak-Mu....

(Selasa, 12 Juni 2012 22.18)

Dear dr. Dyah...
*Kabar yang saya dapat hari ini membuat saya luruh kembali*
Semakin jauh saya berjalan di episode ini, rasa syukur saya semakin membuncah. Saya semakin bisa melihat bahwa ALLOH menghendaki saya memanfaatkan kesempatan di rumah sakit ini untuk terus belajar dan belajar yang akan membuat saya bisa memahami esensi sebuah akreditasi. Tak hanya hasil yang harus lulus, tetapi bagaimana sebuah proses harus berjalan sebagaimana mestinya. InsyaALLAH dr. Dyah, prinsip akreditasi dan ilmu lain yang saya dapatkan dari sekolah ini akan saya terapkan pada klinik kecil impian saya. Impian yang menjadi pemicu semangat saya untuk mau pulang.... Alangkah indahnya takdir ALLOH, segalanya tertata dengan rapi dan dalam perencanaan yang luar biasa sempurna. Sejak awal.

(Rabu, 13 Juni 2012 22.12)

Dear dr. Dyah...
Ada ruginya juga, sebenarnya, menjadi pokja yang dibimbing dr. Dyah. Kini, bila Ketua Yayasan tidak yakin akan suatu hal, pokja kami diminta meneliti dan mengoreksinya. Kami dipaksa untuk menjelma menjadi seperti dr. Dyah yang telitinya luar biasa (kalau Ketua Tim Akreditasi bilang, perfeksionis hehehe....). Kami menjadi serba salah dengan pokja lain....

Dear dr. Dyah...
Saya bersyukur dipertemukan dengan dr. Dyah...
Bisa jadi, bila bukan dr. Dyah yang membimbing, kami justru akan semakin tersesat dalam ketakmengertian kami akan akreditasi – bahkan pada hal yang oleh kami terlihat sepele dalam detil. Sekarang kami bisa melihatnya dengan jernih kesalahan-kesalahan pembuatan dokumen. Kini kami dapat “membaca” bagaimana dokumen harus dipersiapkan dan diimplementasikan. Dan yang terpenting dari semua itu, saya telah menemukan esensi akreditasi... Inilah sebagian kehendak ALLOH yang Maha Sempurna itu...

Dear dr. Dyah...
Jadi benarlah adanya kesan pertama dr. Dyah saat berhadapan dengan kami, terutama saya yang selama ini terlalu cinta dengan layanan primer dan dalam waktu kurang dari 3 bulan diminta mempelajari dan membantu menyiapkan akreditasi layanan sekunder, bahwa kami belum memahami instrumen akreditasi dengan baik....

(Sabtu, 16 Juni 2012 22.45)

Dear dr. Dyah...
Apakah saya harus bersorak girang, ataukah menangis masygul. Tapi tatkala tadi diberitahu, jiwa saya semakin luruh...entah untuk alasan apa. Yang pasti, saya semakin bersyukur dipertemukan dengan dr. Dyah. Saya semakin bersyukur bisa belajar banyak dari segala hal. Saya semakin bersyukur, kehilangan banyak hal itu ALLOH ganti dengan banyak hal yang lain...

Dear dr. Dyah...
Dalam luruh jiwa yang sangat, alhamdulillah, masih bisa tetap tegak karena rasa syukur...”Ya Tuhan kami, berilah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah petunjuk yang lurus bagi kami dalam segala urusan kami.”

(Rabu, 20 Juni 2012 23.01)

Dear dr. Dyah....
Luruh itu semakin menghunjam dalam, hingga hampir tak bertepi, ketika apa yang disampaikan justru membuat saya semakin terhempas gamang.
Haruskah luruh itu memupus semangat yang telah mulai meredup? Perjalanan episode ini kini semakin sepi dalam sunyi tatkala bertiga telah mulai terhuyung, meski riuh di luarnya....*Can you trust the accredited hospitals? Honestly, i don’t think so... It’s all just about the paperworks... In fact, some hospitals just fake them in order to get accredited... Sad but true... ( sontak terngiang ujar seorang teman dalam sebuah diskusi nun jauh di sana )*
Kalaulah bukan karena janji di atas nama ALLOH......

(Senin, 25 Juni 2012 22.50)

Dear dr. Dyah...
Hari ini satu teman saya pulang awal karena batita-nya tidak sehat. Satunya lagi lesu kehilangan darah kata dan semangat karena beberapa hari ini juga harus mengurus batita-nya yang sakit. Beginilah ketika harus menjadi perempuan tangguh.

Jiwa-jiwa luruh yang tertinggal dalam ruangan itu begitu saja terpompakan semangatnya ketika menemukan foto-foto saat bimbingan dengan dr. Dyah...
“Tak mengapa, deh, tak ada e-mail, foto pun jadilah,” gurau saya membangun semangat diri yang diaminkan teman saya dengan tak kalah sumringahnya.
Subhanallah... Efeknya luar biasa! Terkikis sudah jenuh yang mulai menggayut diri. Hilang sudah wajah kuyu tak berdarah kata dan semangat itu!

Dear dr. Dyah...
Alhamdulillah, terima kasih telah menjadi teman perjalanan kami hari ini, meski tanpa dr. Dyah sadari. Inilah kebajikan amal yang dr. Dyah tanam. Semoga kelak di Hari Pembalasan dr. Dyah dapat memanen buahnya dengan hati riang karena ridho ALLOH Sang Pemberi Balasan, sebaik-baik pemberi balasan.

(Senin, 2 Juli 2012 23.16)

Dear dr. Dyah...
Tumbang juga akhirnya...
Kedua teman saya tak berdaya menghadapi hantaman common cold. Hari ini terasa semakin sepi berada di antara berseraknya dokumen. Dan sepi itu semakin menggigit tatkala ada curhat colongan TS Sp.A baru... Gelisah yang semula telah ada sedikit penawar, mulai menggeliat lagi...

Dear dr. Dyah...
Kota ini laksana dua gunung yang memangkunya. Dilihat dari kejauhan, indah nampak dalam birunya. Namun dalam kedekatannya, tak semulus nampak dari kejauhannya. Jurang, tebing, tanjakan terjal, turunan curam, belukar...semua penuh nafas perjuangan....

Dear dr. Dyah....
Jadi teringat sebuah potongan puisi Iqbal,
“ciptakan tubuh dari sejumput debu
tubuh yang kuat tinimbang benteng batu
ciptakan di dalamnya hati yang tabah menanggung rasa sakit
bagaikan anak sungai yang mengitari lereng-lereng bukit”
Puisi yang menguntai sebuah doa...

(Rabu 11 Juli 2012 05.35)

Dear dr. Dyah...
Selesai sudah amanah itu...
Haruskah bersorak riang? Entahlah.... Di antara rasa syukur, terselip gelisah jua. Saya khawatir, bahwa saya telah mulai menjadi katak rebus....

Dear dr. Dyah...
Rekomendasi tim surveior itu, tentu, akan saya jadikan sebagai salah satu pertimbangan dalam memilih setelah episode akreditasi ini “berakhir”... Bukankah telah semestinya, proseslah yang terpenting, bukan hasil itu sendiri?

Dear dr. Dyah...
Saya bersyukur dipertemukan dengan dr. Dyah. Doakan saya, semoga dapat tetap istiqomah di jalan takwa. Doakan saya, semoga saya – seperti dr. Dyah lakukan juga – dapat menghindar dari setiap hal yang menjerumuskan saya dalam kesalahan. Doakan saya, semoga saya sedang tidak menjadi katak rebus....

( Senin 16 Juli 2012 23.24 )

Dear dr. Dyah...
Telah saya temukan jawab mengapa saya merasa begitu dekat dengan dr. Dyah. Pertama, dari semua, dr. Dyah-lah yang paling “steril” akan rumah sakit ini. Dengan demikian dapat melihat secara jernih dan obyektif kondisi rumah sakit ini.  Kedua,  apa yang direkomendasikan dr. Dyah memudahkan urusan saya. Terutama tentang WB. Ketiga, ini alasan personal, dr. Dyah mengingatkan saya pada dua sosok sahabat saya sekaligus.

Dear dr. Dyah...
Untuk jiwa yang selalu gelisah dan banyak kehilangan, hal itu menjadi hadiah terindah dari ALLOH yang Maha Sempurna setiap detil rencana dan kehendak-Nya.

Dear dr. Dyah...
Jazakumullah khairan katsiran, semoga ALLOH membalas kebaikan yang dr. Dyah tanam dengan lebih banyak lagi kebaikan-kebaikan di dunia dan di akhirat.

Dear dr. Dyah....
Teruslah dan tetaplah lurus istiqomah di jalan takwa. Semoga setiap langkah dan helaan nafas dr. Dyah menjadi rangkaian anak tangga menuju surga, dan setiap tetes peluh menjadi untaian mutiara-Nya. Aamiin ya ALLOH ya mujibussailiin.

(Selasa 31 Juli 2012 22.52)

Dear dr. Dyah...
Siang hendak pulang tadi, Ketua Tim Akreditasi memberikan berita di bawah anak tangga, bahwa telah ada kabar dari Jakarta rumah sakit ini lulus akreditasi. Saya berbalik arah tak jadi pulang sepeninggal beliau, menemui teman saya. “Alhamdulillah, lega rasanya seperti orang habis melahirkan,” ujarnya menyambut kabar itu.

Dear dr. Dyah...
Bagi saya, hanya satu alasan yang membuat saya lega dengan kelulusan itu, bisa meninggalkan rumah sakit ini dengan langkah ringan... Hanya itu... Selebihnya, jujur di paling dalam sanubari, gelisah saya kian menjadi....

Kamis, 27 September 2012

ASA

Setelah beberapa langkah menuju, bukan pada perjalanan semula, semakin kuyakin bahwa mempunyai klinik sendiri adalah hal yang paling ideal untuk jiwa yang masih senantiasa gelisah ini.

Hijrah adalah menuju perbaikan, bukan?
Untuk apa kalau langkahku kembali seperti semula, pada titik awal pijakan?

*dan, semakin yakin aku bahwa sebaik apapun di situ, bukan itu duniaku.
*setiap warta yang mengabarkan bahwa kiriman yang menuju padanya justru membuatnya bingung dan puyeng, semakin aku yakin bahwa bukan di situ duniaku...semoga semua itu adalah sinyal-sinyal dari Allah agar aku kembali ke niat semula. Kembali ke dunia yang telah menjadi bagian jiwaku. Bukan di situ tempatku. Karena tempat itu semakin menjauhkanku dari segala yang kusuka, dari hal yang kusayang, dari udara yang kuhirup sekuat jiwa, dan dari dunia yang kupijak dengan cinta.

*catatan kecil yang tercecer di jeda perjalanan akreditasi Maret - Juli 2012*

Senin, 12 September 2011

RUMAH TERAKHIR DUNIA

Jum'at 3 Syawal 1432 H, 2 September 2011 resmilah kami menempati rumah baru kami. Semoga ini menjadi rumah terakhir kami di dunia. Hitung-hitung, sejak menikah kami sudah berpindah rumah sebanyak delapan kali. Lebih banyak dari pindahnya seekor kucing beranak. Pejaten, Harapan Baru, Pasirukem, Harapan baru, BBD, Permata Puri Laguna ( atas ), Permata Puri Laguna ( bawah ), Kp. Sabuk Alu, dan berakhir di sini : Jl. Dieng KM 3 No 79B Kalianget-Wonosobo.

Banyak teman yang bertanya-tanya gerangan apa mendadak pulang kampung. Dengan bercanda, kujawab kalah berperang melawan garangnya ibu kota Jakarta hehehe...
Bukan itu tentu alasana sebenarnya. Pulang kampung adalah cita-cita kami berdua, aku dan suami. Rencana awal memang, setelah anak-anak kuliah, kami berdua pulang kampung. Membuat basecamp di kaki gunung Sindoro. Melakukan perjalanan wisata, singgah beberapa lama di kota yang kami senangi, menuliskannya. Dan melakukan rehat perjalanan dengan "menemani" kost anak-anak yang sedang kuliah. Bila mereka kuliahnya tak sekota, digilir. Menyenangkan, bukan?

Ternyata, tak harus menunggu anak-anak kuliah. Di tengah perjalanan ekspedisinya, "Kita pulang ke Wonosobo setelah saya selesai ekspedisi, bagaimana?" tanya suamiku via sms. Entah, racun apa yang ditiupkan suamiku, aku seketika mengiyakan. Kontrak rumah akan selesai, Aulya rampung SMP, dan - baik aku maupun suamiku - tak terikat oleh pekerjaan yang mengharuskan berumah di Jakarta. Lebih dari itu, Jakarta tidak kondusif untuk kelanjutan sekolah anakku. Menurut kami berdua. ( Alif, si sulung, kami sekolahkan di Cirebon. Sekolah berasrama ). Aulya, yang semula keberatan pindah, akhirnya mau setelah kami memaknai kepindahan ini sebuah langkah hijrah.

Dan, di rumah inilah sekarang kami..
Pagi kedua di rumah baru, suamiku berdua Alif duduk-duduk di teras belakang yang menghadap bukit kecil di seberang sungai yang airnya mengirim suara gemericik surgawi dan melintasi pematang sawah yang mulai ditanam padi. "Serasa rumah villa, ya, Pak," ujar Alif sambil mengudap serabi yang dibeli bapaknya.

Untuk ukuran kami yang telah berpuluh tahun terbiasa hidup di pinggiran metropolitan Jakarta dengan rumah tanpa halaman, tembok dinding rumah harus berbagi dengan tetangga, dan sejauh-jauh mata memandang hanyalah bangunan-bangunan rumah, menemukan suasana baru yang sungguh sangat kontras adalah sebuah kemewahan yang luar biasa istimewa.

Suamiku tersenyum. "Kamu senang, Nak?"

Sulungku mengangguk.

"Sayang, nih, satu yang kurang..."

"Apa?"

"Nggak boleh merokok..." Suara suamiku terasa masygulnya.

"Katanya hijrah euy..."

Berkali-kali kutekankan, kepindahan kali ini adalah hijrah. Bukankah hijrah selalu bermakna menuju ke kebaikan? Bukankah dari merokok menjadi tidak merokok juga sebuah kebaikan? Coba dilihat dari sisi manapun - kecuali dari sisi penjual dan produsen rokok, tentu saja - tidak merokok pasti lebih baik dari pada merokok. Meski harus pakai sedikit ancaman, akhirnya suamiku mau untuk tidak merokok.

Inilah rumah kami. Semoga menjadi rumah terakhir dunia kami. Semoga menjadi rumah yang dirahmati, diridhai, dan diberkahi ALLAH. Semoga rumah ini dapat menjadi ladang amal shalih bagi para penghuninya yang ALLAH ridhai sehingga layak menjadi bekal kami menuju surgaNya. Dan, semoga keluarga kami menjadi keluarga sakinah, mawadah, warahmah. Semoga rumah ini menjadi surga kami. Meski tak bermeja-kursi :)

Robbana anzilna munzallan mubaarakan wa anta khayrulmunziliin, Ya Tuhan kami, tempatkanlah kami pada tempat yang diberkahi, dan Engkau adalah sebaik-baik pemberi tempat.

Minggu, 31 Juli 2011

RAMADHAN 1432 H

Bismillah...
Senin 1 Agustus 2011 adalah hari pertama Ramadhan 2011. Ramadhan kali ini menjadi Ramadhanku yang pertama di Wonosobo. Ada banyak yang hilang...

Kegiatan yang biasa kulalui di Laguna, belum dapat kutemukan.
Laguna... Pada perjalanan, di titik inilah kutemukan tempat dimana aku bisa melihat lebih jernih setiap langkahku, baik yang sudah ataupun sedang berlangsung. Di titik inilah, kutemukan ketenangan jiwa. Di titik ini pula kudapatkan banyak sahabat dan saudara. Padahal di titik ini pula, secara materi aku bukan siapa-siapa. Dan, tidak punya apa-apa selain sepotong hati yang terbasuh hidayah.

Hidayah? Begitu percayadirikah aku menyebut diriku telah mendapat hidayah?
Ustadz Farid Nu'man pernah mengatakan bahwa hidayah itu seperti stop kontak listrik yang terpasang di dinding, di mana telah ada arus listrik dari PLN. Tinggal kita mau tidak menyalakan stop kontak listrik itu. Dan, aku semakin tak risau dengan apa pun yang melingkupi perjalanan ini. Dan di sebuah titik di sudut Laguna, kutemukan pula bahwa hidup ini adalah ujian. Ujian dengan sistem open book. Dengan bekal itulah, aku merasa hatiku telah terbasuh hidayah. Semoga bukan hanya impian kosongku belaka...

Betapa indahnya perjalananku di lorong Laguna. Apalagi di saat Ramadhan seperti ini. Taman surga yang terhampar di dunia menarik-narikku untuk selalu memasukinya.

Dan di sini sekarang, di Wonosobo - tempat aku dan keluargaku meniatkan sebagai basecamp - aku harus memulai segalanya dari nol. Hanyalah satu pintaku pada Allah rabb Sang Maha Pemberi, jangan surut langkah ini. Tidakkah merugi langkah yang surut itu? Dan, aku tak ingin pula terpaku pada jejak bayang masa lalu, betapapun pahit ataupun indah bayang itu.

Ramadhan pertamaku di Wonosobo. Smoga menjadi tonggak perjalanan hidayah yang lebih bercahaya karena setiap helaan nafas dan kedipan mata adalah jalan pasti menuju Allah...

Ya Allah, jadikan tempat kami bermukim sekarang ini sebagai ladang amal sholih bagi kami yang Engkau ridhoi dan Engkau rahmati sebagai bekal menujuMu. Aamiin ya Allah ya robbal 'alamiin.

Selasa, 18 Mei 2010

proses pembelajaran

Membendung rasa rindu yang meluap perlahan...
Kubaca ulang seluruh catatan pribadi. Dari buku harian, surat-surat, hingga serpihan kenangan yang lain.
Aku menjadi malu, malu sekali...
Melihat sosok bayang diri pada cermin kusam. Bayangan terlihat kabur. Tetapi sorot itu jelas terlihat...betapa temperamentalnya diriku. Aku menemukan diri seperti anak sepuluh tahun yang terjebak pada tubuh seorang dewasa...
Tapi biarlah...
Tak akan kuhapus bayang itu. Tak akan kutinggal jejak itu..Tetapi, aku tidak ingin terpaku pada bayang masa lalu. Biarkan semua itu menjadi catatan sejarah perjalanan pendewasaan diri. Belajar sepanjang hayat...
Alhamdulillah, alangkah bersyukurnya aku...Betapa nikmat berlimpah. Suamiku, pendamping proses belajar itu. Pengalaman-pengalaman, guru berharga dalam setiap langkah. Anak-anak, sinyal benderang sebagai lentera perjalanan...

Aku tak sanggup menanggung malu ketika membaca lembaran-lembaran itu. Tak sanggup. Bahkan terhadap diri sendiri aku tak sanggup.. Juga, tak pula sanggup aku menahan air mata...

Allah, Tuhanku, terima kasih telah Engkau beri kesempatan untuk belajar, belajar, dan belajar. Terima kasih atas anugerah hidayah hingga kumampu mengambil hikmah. Terima kasih Allah-ku...

Sabtu, 20 Maret 2010

kenangan

hari ini kuputuskan untuk membuang semua atribut masa lalu, sebuah istana kecil yang pernah selintas kami singgahi... bukti angsuran kpr, sertifikat dari btn, bukti tagihan telepon dan listrik, catatan dan kuitansi renovasi.
biarkan kenangan itu terpateri di ruang memori kecil ini saja.. hidup, tak terpaku pada jejak bayang masa lalu...

Sabtu, 04 Juli 2009

sekolah

Hari ini harusnya tes masuk sekolah. Tetapi aku telah memutuskan untuk tidak jadi sekolah lagi. Ada banyak pertimbangan yang menjadi alasannya.
Aku hanya bermohon padaNYA bahwa keputusanku itu adalah yang terbaik menurut Allah. Dan Allah ridho. Bukankah dalam hidup ini hanya ridho Allah yang hanya dan harus kita harapkan pinta?

Allah, aku bahagia telah mengambil keputusan yang menurutku telah tepat.
Belajar, bagiku sekarang ini, tidak harus di balik dinding bernama sekolah. Setiap tempat adalah sekolah. Setiap orang adalah guru. Belajar sepanjang hayat, tak berbatas ruang dan waktu.

Sekarang ini, aku tidak menemukan sebuah alasan urgensinya sekolah formal untukku. Kepentingan itu harus bergeser kepada kedua permata hatiku, yang jalannya masih jauh terbentang.

Allah, ridhoi selalu setiap langkah kakiku. Aku ingin membawa manfaat untuk banyak manusia di muka bumi ini. Aku ingin mengisi perjalanan ini dengan hal-hal yang jauh lebih berguna untuk manusia banyak, sebagai tambahan bekal perjalanan menujuMU.


Minggu, 28 Juni 2009

Kuasa Allah

Kemarin, Sabtu 27 Juni 2009, bertepatan dengan pengambilan raport anakku, 2 sms masuk ke inbox hpku...

"Sampan kami terbalik di Mentawai di laut. Kami selamat karena hanya 100 meter dari muara. Tapi laptop MacBook dan dua kamera terendam air laut, mungkin tak terselamatkan. Baru ada kapal ke Padang hari Selasa."

Dadaku bergemuruh. Kalau saja tidak ingat, bahwa takdir Allah selalu ada dalam setiap helaan nafas...
Tetapi, hatiku masih buram, menahan galau yang tetap saja ingin meloncat keluar. Mencoba menguatkan hatiku sendiri, kutulis balasan:
"Innalillahi wainna ilaihi raji'uun" ( bukankah hanya kata ini yang layak untuk disebut? ) "Astaghfirullah...Allahumma ajirnii fi musibatii wakhlifli khairan minhaa. Semoga Allah mengaruniakan kesabaran dan kemampuan mengambil hikmah, ya, sayangku..."

Aaahhh...sebenarnya semua yang kutulis itu lebih tepat ditujukan untuk diriku sendiri. Aku yakin, suamiku lebih tangguh menghadapi takdir itu.
"Bapak harusnya masuk Guiness Book of Record katagori Orang Yang Tidak Pernah Panik Sedunia," kesan anakku yang disematkan untuk bapaknya.

SMS kedua masuk ketika aku baru mulai melerai, berdamai dengan kehendak Yang Maha Berkehendak.
"Mbak, perutku mules keluar flek sama gumpalan darah. Apakah aku harus ke dokter?"

Tanpa jeda, langsung kubalas sms itu.
"Harus, Mbak. Segera saja..."
Aku ngeri membayangkan apa yang akan terjadi. Tetapi, tentu, tak kusampaikan kengerianku itu.

"Aku berangkat ke dokter sekarang. Doakan yang terbaik ya say..."
Berdebar, kubalas "Iya Mbak. Yang sabar, ya, biasanya kalau sudah seperti itu tidak bisa dipertahankan lagi."

Seharusnya aku tidak boleh menulis kata-kata seperti itu, karena aku yakin seyakin-yakinnya dia pasti langsung terguguk menangis. Tetapi, selain karena aku tidak punya kata-kata, aku juga ingin agar dia siap mental mengahadapi kenyataan...

Aaahhh...berbicara memang lebih mudah dari pada menjalaninya. Nyatanya, baru beberapa menit lalu aku yang barusan menitip pesan untuk sabar kepada sahabatku, kelimpungan ketika membayangkan suamiku harus kehilangan laptop dan kamera...

Mataku selalu kuarahkan ke jam dinding di atas televisi itu. Kuhitung-hitung kira-kira sudah sampai apa dokter melakukan tindakan ke sahabatku. Dua jam lewat. Aku tidak berani sms. Aku takut menghadapi kekecewaan dan kesedihan sahabatku.

"Alhamdulillah, Mbak, janinnya bagus. Aku harus bedrest 3 hari. ALLAHU AKBAR! SUBHANALLAH.."

Aku meloncat dari rasa kantuk.
Benarkah???

Lagi-lagi kuasa Allah, Rabb Yang Maha Berkuasa. Aku merasa tertampar, "Jangan takabur, kamu, takdirKU berlaku di atas kehendakKU."

Aku terjerembab jauh ke jurang ketakberdayaan dan kebodohan.
Manusia hanyalah hamba. Yang tidak bisa menentukan takdir apapun. Seharusnyalah, aku berhati-hati dalam berucap..
.

Astaghfirullahal 'adzim, ya Allah, atas kesombonganku mendahului kehendakMU...




Rabu, 17 Juni 2009

alasan

Mengapa setelah beberapa bulan blog ini dibuat belum juga diisi?

Semula memang ada semangat yang berkobar-kobar untuk segera menulis yang hampir setiap hari menggedor isi kepala.
Tetapi, setelah pulang ke rumah, beraktivitas kembali seperti sedia kala, semangat yang menggebu itu hilang seperti terhempas air bah.
Dan niat terpaterikan, akan mulai menulis pada saat suamiku berangkat ekspedisi.
Ternyata, belum kesampaian juga...

Nah,
malam ini, sembari memeloloti tv yang disibukkan oleh kampanye pilpres, aku ingin mencoba mulai menulis.
Ini hari ke tujuh belas suamiku menikmati petualangan. Bisa jadi malam ini suamiku sedang mengadakan acara perpisahan dengan teman-teman barunya di Enggano....