Catatan yang tercecer
Sabtu, 18 Agustus 2012
Ramadhan kali ini terasa lebih dan sangat sepi.
Pintaku pada-Mu Robb, Allah Yang Maha Pemberi,
jagalah hati ini tetap ramai menyerumu...
Ramadhan kali ini terasa lebih pedih...
terbelah dalam dua sunyi, meski berakhir pada muara yang sama..
Ampuni kami duhai Allah, Robb Sang Maha Pengampun,
Kasihanilah kami wahai Allah, Robb yang Maha Rahim,
Terimalah ibadah Ramadhan kami, ya Allah, Robb yang Maha Mengabulkan doa,
meski tak sempurna Ramadhan kami,
meski tak seindah Ramadhan-ramadhan yang lalu...
Jangan masukkan kami ke dalam golongan yang merugi,
tetapi masukkan kami ke dalam golongan yang mendapat kemuliaan Ramadhan...
Tampilkan postingan dengan label pribadi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pribadi. Tampilkan semua postingan
Minggu, 23 Februari 2014
Rabu, 16 Januari 2013
RINDU
bukan hendak mengubur rindu
hanya ingin melerai nafsu
tak ada sapa, tak ada tanya
bukan berarti tak ada doa
biarkan segala tak menjadi sia-sia
doa kupinta padaNya
semoga kan bermuara pada surga
hingga kubisa menumpahkan
segala harap dan damba
bukan hendak mengubur rindu
hanya ingin melerai nafsu
cukup Allah muara semua rindu
agar cinta tak menjadi sia-sia
*tanggal ini dua puluh tahun lalu
prasasti perjanjian mulia diikrarkan
di atas namaNya Yang Maha Pemurah*
Jumat, 05 Oktober 2012
dr. Dyah
Sehari menjelang mengikuti Bimbingan Teknis Standar Akreditasi Baru di Bandungan, bersama Direktur dan Ketua Yayasan.... Begitu saja teringat dr. Dyah....
*dr. Dyah, beginilah cara saya membangun semangat diri agar tetap dapat bertahan di sepanjang perjalanan akreditasi yang lalu*
***
(Selasa, 5 Juni
2012 22.24)
Dear
dr. Dyah....
Saya
bersyukur dipertemukan dengan dr. Dyah...
Ijinkan
saya mundur beberapa langkah, menapaktilasi perjalanan yang berujung pada
pertemuan kita. Saya menolak masuk sebuah rumah sakit, tapi tak kuasa untuk tidak
menerima tawaran ketua yayasan rumah sakit ini, yang membuat beberapa orang
bertanya kenapa. Dan dr. Dyah tak mau menerima tawaran ke Lampung, tapi
semangat berkunjung ke kota kami. Semuanya terlihat begitu indah, tertata
dengan rapi, penuh perhitungan yang seksama sehingga terbentuk harmoni yang
menakjubkan. Saya baru mulai bisa memandangnya sekarang. Alangkah indahnya,
meski saya berjalan hanya mengikuti aliran tempat menuju..... *Tatkala perjalanan ini bersandar pada
aliran arus-Nya, tak perlu banyak tanya meski awalnya tak paham arah. Tak usah
bingung meski tak mengerti. Asal tujuan kita pasti - semata hanya karena Allah,
insya Allah kita tak kan tersesat. (terngiang nasehat seorang sahabat)*
(Rabu, 6 Juni 2012
22.19)
Dear
dr. Dyah...
Hari
ini saya masuk kerja dengan mata yang sembab sangat. Saya tidak peduli. Hampir
semua mata yang beradu dengan mata sembab saya bermimik penuh tanya. Kenapa
saya harus peduli?
Hanya
teman saya berdua itu yang tak menanyakan apapun. Mereka telah tahu. Semalam,
sms dr. Dyah telah saya forward ke
mereka berdua. “Njuk, piye, jaaaal...?”
Bunyi sms yang sama dari mereka berdua serentak bersambung. Kita harus tetap
semangat, kata saya. Ah, sebenarnya kata itu saya tujukan hanya untuk diri
sendiri karena begitu saja jiwa ini terpuruk luruh. Bukan soal bisa atau tidak
bisanya konsultasi lagi yang jadi sebab. Bukan soal itu. Luruh ini semata
karena takut kehilangan...
Dear
dr. Dyah...
Rentang
perjalanan di episode akreditasi ini, saya telah kehilangan banyak hal. Dan semua
itu menjadi sebuah kemewahan yang semakin saya rindukan dalam ketakberdayaan.
(Kamis, 7 Juni
2012 22.37)
Dear
dr. Dyah....
Saya
bersyukur dipertemukan dengan dr. Dyah...
Alangkah
lucunya sehari tadi... Baru sehari tadi, Dok... Sehari. Sehari tidak ada e-mail
dari dr. Dyah, kami sudah merasa kehilangan... Entah berapa kali kami
bergantian mengintip inbox e-mail di sela kesibukan kami menata ulang dokumen
seraya mengoreksinya, berharap ada sebuah - sebuah saja - e-mail dr. Dyah menyapa kami. E-mail yang
membuat kami terpompakan semangatnya. E-mail yang membuat kami tertawa
kegirangan. E-mail yang membuat kami merasa begitu dekat dengan dr. Dyah
walaupun dr. Dyah nun jauh di sana. E-mail yang membuat kami merasa bahwa dr.
Dyah adalah teman seperjalanan kami yang menyenangkan dalam menempuh akreditasi
ini.
Baru sehari tanpa e-mail dr. Dyah, kami telah
kehilangan....
Dear
dr. Dyah....
Alhamdulillah,
meskipun harus kehilangan banyak hal saya bersyukur diberi kesempatan oleh
Allah untuk belajar sesuatu yang sama sekali baru bagi saya.
Periode
ini tidak akan terlupa. Meski di rentang perjalanannya sering membuat jiwa
luruh di titik nadir. Meski ujung episodenya belum terlihat bentuknya. Saya
akan selalu memandangnya dengan pandangan yang sama yang sering dr. Dyah
sampaikan, indah terasa. Kehendak Allah terasa indah pada saatnya.
(Jum’at , 8 Juni
2012 22.23)
Dear
dr. Dyah....
“Ceria
sekali, sudah dapat kabar apa dari dr. Dyah?” sapa Ketua Yayasan di ujung anak
tangga siang tadi. Saya tersenyum, “Standar 7 sudah dibalas, Bu.”
Gara-gara
mata sembab saya beberapa hari lalu itu, Ketua Yayasan selalu menunggu saya di
ujung anak tangga untuk sekadar menanyakan kabar dr. Dyah.
Dear
dr. Dyah...
Pagi
tadi kehebohan pecah di ruang apotek karena BBM-an dr. Dyah dengan mereka.
“Lihat,
nih, lihat... Masa’ gini banget, sih? bla...bla...bla...jujur, ya, berat untuk
lulus...”
Saya
tersenyum getir. Bukan karena kabar itu, tentu.
“Apa
yang akan terjadi kalau dr. Dyah bilang bisa lulus?” saya bertanya sambil
melerai jiwa yang gelisah.
“Kita
akan lengah. Menjadi santai karena sudah merasa bisa lulus,” sambung saya
tatkala matanya tertuju pada pertanyaan saya tanpa jawab. “Jadikan kata-kata
dr. Dyah sebagai cambuk, kerja semaksimal mungkin dan berdoa. Hasilnya serahkan
kepada ALLOH. Beres, kan?”
Ah,
lagi-lagi, sebenarnya kata-kata itu saya tujukan untuk diri saya sendiri.
Dear
dr. Dyah...
Rumah
sakit ini adalah salah satu sekolah saya...
Saya
selalu didera kegelisahan sejak kepulangan saya di kota ini. Dan kegelisahan
itu semakin menampakkan bentuknya setelah saya diberi ALLOH kesempatan untuk
bergabung di rumah sakit ini.
(Sabtu, 9 Juni
2012 22.28)
Dear
dr. Dyah...
Semenjak
bimbingan, Sabtu adalah jadwal duduk bersama antara Yayasan, Direktur, dan Tim
Akreditasi....
Kembali
dr. Dyah menjadi trending topic...
Ketua Tim Akreditasi menanyakan kepada saya, apakah begitu juga dr. Dyah kepada
pokja saya. Serentak bertiga menjawab tidak...”Saya baca komentarnya, kesannya
dr. Dyah ini kok kecewa sekali, marah,” lanjutnya.
Kami
bertiga tetap dalam diam karena tidak tahu harus berkata apa.
(Ahad, 10 Juni
2012 23.33)
Dear
dr. Dyah...
Terbangun
dari tidur yang tak pernah lagi bisa nyenyak sejak episode ini...
Malu
sebenarnya menyampaikan hal ini... Kesemrawutan yang nyaris sempurna...
(Senin, 11 Juni
2012 23.40)
Dear
dr. Dyah...
Sepulang
mengirim buku, saya dibanjiri semangat yang luar biasa dahsyatnya. Tak peduli
menjadi sendiri di pojok ruang karena kedua teman saya pulang awal, target hari
ini saya kebut. Alhamdulillaah....
Dear
dr. Dyah...
Saya
akan menunaikan janji yang diamanahkan kepada saya semampu yang saya bisa
kerjakan. Semaksimal mungkin. Tak peduli lagi, apa hasil yang akan didapatkan. ALLOH
Maha Tahu kehendak-Nya yang lebih baik dari keinginan saya.
Dear
dr. Dyah...
Semangat
itu menjadikan saya mendapatkan kembali sebagian apa yang telah hilang
sebelumnya. Saya baru menyadari bahwa telah begitu lama tak memperhatikan
ikan-ikan di kolam *memaksa saya menyari dedaunan di ujung keremangan senja*. Bisa
menikmati detil lain meskipun sudah berkali-kali nonton Blood Diamond. Bisa
kembali asyik membaca buku... Alhamdulillah Robb-ku, takdir-Mu di atas kehendak-Mu....
(Selasa, 12 Juni
2012 22.18)
Dear
dr. Dyah...
*Kabar yang saya dapat
hari ini membuat saya luruh kembali*
Semakin
jauh saya berjalan di episode ini, rasa syukur saya semakin membuncah. Saya
semakin bisa melihat bahwa ALLOH menghendaki saya memanfaatkan kesempatan di
rumah sakit ini untuk terus belajar dan belajar yang akan membuat saya bisa memahami
esensi sebuah akreditasi. Tak hanya hasil yang harus lulus, tetapi bagaimana
sebuah proses harus berjalan sebagaimana mestinya. InsyaALLAH dr. Dyah, prinsip
akreditasi dan ilmu lain yang saya dapatkan dari sekolah ini akan saya terapkan
pada klinik kecil impian saya. Impian yang menjadi pemicu semangat saya untuk
mau pulang.... Alangkah indahnya takdir ALLOH, segalanya tertata dengan rapi
dan dalam perencanaan yang luar biasa sempurna. Sejak awal.
(Rabu, 13 Juni
2012 22.12)
Dear
dr. Dyah...
Ada
ruginya juga, sebenarnya, menjadi pokja yang dibimbing dr. Dyah. Kini, bila
Ketua Yayasan tidak yakin akan suatu hal, pokja kami diminta meneliti dan
mengoreksinya. Kami dipaksa untuk menjelma menjadi seperti dr. Dyah yang
telitinya luar biasa (kalau Ketua Tim Akreditasi bilang, perfeksionis hehehe....).
Kami menjadi serba salah dengan pokja lain....
Dear
dr. Dyah...
Saya
bersyukur dipertemukan dengan dr. Dyah...
Bisa
jadi, bila bukan dr. Dyah yang membimbing, kami justru akan semakin tersesat
dalam ketakmengertian kami akan akreditasi – bahkan pada hal yang oleh kami
terlihat sepele dalam detil. Sekarang kami bisa melihatnya dengan jernih
kesalahan-kesalahan pembuatan dokumen. Kini kami dapat “membaca” bagaimana
dokumen harus dipersiapkan dan diimplementasikan. Dan yang terpenting dari
semua itu, saya telah menemukan esensi akreditasi... Inilah sebagian kehendak
ALLOH yang Maha Sempurna itu...
Dear
dr. Dyah...
Jadi
benarlah adanya kesan pertama dr. Dyah saat berhadapan dengan kami, terutama
saya yang selama ini terlalu cinta dengan layanan primer dan dalam waktu kurang
dari 3 bulan diminta mempelajari dan membantu menyiapkan
akreditasi layanan sekunder, bahwa kami belum memahami instrumen akreditasi
dengan baik....
(Sabtu, 16 Juni
2012 22.45)
Dear
dr. Dyah...
Apakah
saya harus bersorak girang, ataukah menangis masygul. Tapi tatkala tadi diberitahu,
jiwa saya semakin luruh...entah untuk alasan apa. Yang pasti, saya semakin
bersyukur dipertemukan dengan dr. Dyah. Saya semakin bersyukur bisa belajar
banyak dari segala hal. Saya semakin bersyukur, kehilangan banyak hal itu ALLOH
ganti dengan banyak hal yang lain...
Dear
dr. Dyah...
Dalam
luruh jiwa yang sangat, alhamdulillah, masih bisa tetap tegak karena rasa
syukur...”Ya Tuhan kami, berilah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan
sempurnakanlah petunjuk yang lurus bagi kami dalam segala urusan kami.”
(Rabu, 20 Juni
2012 23.01)
Dear
dr. Dyah....
Luruh
itu semakin menghunjam dalam, hingga hampir tak bertepi, ketika apa yang
disampaikan justru membuat saya semakin terhempas gamang.
Haruskah
luruh itu memupus semangat yang telah mulai meredup? Perjalanan episode ini kini
semakin sepi dalam sunyi tatkala bertiga telah mulai terhuyung, meski riuh di
luarnya....*Can you trust the accredited hospitals? Honestly, i don’t think
so... It’s all just about the paperworks... In fact, some hospitals just fake
them in order to get accredited... Sad but true... ( sontak terngiang ujar
seorang teman dalam sebuah diskusi nun jauh di sana )*
Kalaulah
bukan karena janji di atas nama ALLOH......
(Senin, 25 Juni
2012 22.50)
Dear
dr. Dyah...
Hari
ini satu teman saya pulang awal karena batita-nya tidak sehat. Satunya lagi
lesu kehilangan darah kata dan semangat karena beberapa hari ini juga harus
mengurus batita-nya yang sakit. Beginilah ketika harus menjadi perempuan
tangguh.
Jiwa-jiwa
luruh yang tertinggal dalam ruangan itu begitu saja terpompakan semangatnya
ketika menemukan foto-foto saat bimbingan dengan dr. Dyah...
“Tak
mengapa, deh, tak ada e-mail, foto pun jadilah,” gurau saya membangun semangat
diri yang diaminkan teman saya dengan tak kalah sumringahnya.
Subhanallah...
Efeknya luar biasa! Terkikis sudah jenuh yang mulai menggayut diri. Hilang
sudah wajah kuyu tak berdarah kata dan semangat itu!
Dear
dr. Dyah...
Alhamdulillah,
terima kasih telah menjadi teman perjalanan kami hari ini, meski tanpa dr. Dyah
sadari. Inilah kebajikan amal yang dr. Dyah tanam. Semoga kelak di Hari
Pembalasan dr. Dyah dapat memanen buahnya dengan hati riang karena ridho ALLOH
Sang Pemberi Balasan, sebaik-baik pemberi balasan.
(Senin, 2 Juli
2012 23.16)
Dear
dr. Dyah...
Tumbang
juga akhirnya...
Kedua
teman saya tak berdaya menghadapi hantaman common cold. Hari ini terasa semakin
sepi berada di antara berseraknya dokumen. Dan sepi itu semakin menggigit
tatkala ada curhat colongan TS Sp.A baru... Gelisah yang semula telah ada
sedikit penawar, mulai menggeliat lagi...
Dear
dr. Dyah...
Kota
ini laksana dua gunung yang memangkunya. Dilihat dari kejauhan, indah nampak
dalam birunya. Namun dalam kedekatannya, tak semulus nampak dari kejauhannya.
Jurang, tebing, tanjakan terjal, turunan curam, belukar...semua penuh nafas
perjuangan....
Dear
dr. Dyah....
Jadi
teringat sebuah potongan puisi Iqbal,
“ciptakan
tubuh dari sejumput debu
tubuh
yang kuat tinimbang benteng batu
ciptakan
di dalamnya hati yang tabah menanggung rasa sakit
bagaikan
anak sungai yang mengitari lereng-lereng bukit”
Puisi
yang menguntai sebuah doa...
(Rabu 11 Juli
2012 05.35)
Dear
dr. Dyah...
Selesai
sudah amanah itu...
Haruskah
bersorak riang? Entahlah.... Di antara rasa syukur, terselip gelisah jua. Saya
khawatir, bahwa saya telah mulai menjadi katak rebus....
Dear
dr. Dyah...
Rekomendasi
tim surveior itu, tentu, akan saya jadikan sebagai salah satu pertimbangan
dalam memilih setelah episode akreditasi ini “berakhir”... Bukankah telah
semestinya, proseslah yang terpenting, bukan hasil itu sendiri?
Dear
dr. Dyah...
Saya
bersyukur dipertemukan dengan dr. Dyah. Doakan saya, semoga dapat tetap
istiqomah di jalan takwa. Doakan saya, semoga saya – seperti dr. Dyah lakukan
juga – dapat menghindar dari setiap hal yang menjerumuskan saya dalam
kesalahan. Doakan saya, semoga saya sedang tidak menjadi katak rebus....
( Senin 16 Juli
2012 23.24 )
Dear
dr. Dyah...
Telah
saya temukan jawab mengapa saya merasa begitu dekat dengan dr. Dyah. Pertama, dari
semua, dr. Dyah-lah yang paling “steril” akan rumah sakit ini. Dengan demikian
dapat melihat secara jernih dan obyektif kondisi rumah sakit ini. Kedua, apa yang direkomendasikan dr. Dyah memudahkan
urusan saya. Terutama tentang WB. Ketiga, ini alasan personal, dr. Dyah mengingatkan
saya pada dua sosok sahabat saya sekaligus.
Dear
dr. Dyah...
Untuk
jiwa yang selalu gelisah dan banyak kehilangan, hal itu menjadi hadiah terindah
dari ALLOH yang Maha Sempurna setiap detil rencana dan kehendak-Nya.
Dear
dr. Dyah...
Jazakumullah
khairan katsiran, semoga ALLOH membalas kebaikan yang dr. Dyah tanam dengan
lebih banyak lagi kebaikan-kebaikan di dunia dan di akhirat.
Dear
dr. Dyah....
Teruslah
dan tetaplah lurus istiqomah di jalan takwa. Semoga setiap langkah dan helaan
nafas dr. Dyah menjadi rangkaian anak tangga menuju surga, dan setiap tetes peluh
menjadi untaian mutiara-Nya. Aamiin ya ALLOH ya mujibussailiin.
(Selasa 31 Juli
2012 22.52)
Dear
dr. Dyah...
Siang
hendak pulang tadi, Ketua Tim Akreditasi memberikan berita di bawah anak
tangga, bahwa telah ada kabar dari Jakarta rumah sakit ini lulus akreditasi.
Saya berbalik arah tak jadi pulang sepeninggal beliau, menemui teman saya.
“Alhamdulillah, lega rasanya seperti orang habis melahirkan,” ujarnya menyambut
kabar itu.
Dear
dr. Dyah...
Bagi
saya, hanya satu alasan yang membuat saya lega dengan kelulusan itu, bisa
meninggalkan rumah sakit ini dengan langkah ringan... Hanya itu... Selebihnya,
jujur di paling dalam sanubari, gelisah saya kian menjadi....
Kamis, 27 September 2012
ASA
Setelah beberapa langkah menuju, bukan pada perjalanan semula, semakin kuyakin bahwa mempunyai klinik sendiri adalah hal yang paling ideal untuk jiwa yang masih senantiasa gelisah ini.
Hijrah adalah menuju perbaikan, bukan?
Untuk apa kalau langkahku kembali seperti semula, pada titik awal pijakan?
*dan, semakin yakin aku bahwa sebaik apapun di situ, bukan itu duniaku.
*setiap warta yang mengabarkan bahwa kiriman yang menuju padanya justru membuatnya bingung dan puyeng, semakin aku yakin bahwa bukan di situ duniaku...semoga semua itu adalah sinyal-sinyal dari Allah agar aku kembali ke niat semula. Kembali ke dunia yang telah menjadi bagian jiwaku. Bukan di situ tempatku. Karena tempat itu semakin menjauhkanku dari segala yang kusuka, dari hal yang kusayang, dari udara yang kuhirup sekuat jiwa, dan dari dunia yang kupijak dengan cinta.
*catatan kecil yang tercecer di jeda perjalanan akreditasi Maret - Juli 2012*
Hijrah adalah menuju perbaikan, bukan?
Untuk apa kalau langkahku kembali seperti semula, pada titik awal pijakan?
*dan, semakin yakin aku bahwa sebaik apapun di situ, bukan itu duniaku.
*setiap warta yang mengabarkan bahwa kiriman yang menuju padanya justru membuatnya bingung dan puyeng, semakin aku yakin bahwa bukan di situ duniaku...semoga semua itu adalah sinyal-sinyal dari Allah agar aku kembali ke niat semula. Kembali ke dunia yang telah menjadi bagian jiwaku. Bukan di situ tempatku. Karena tempat itu semakin menjauhkanku dari segala yang kusuka, dari hal yang kusayang, dari udara yang kuhirup sekuat jiwa, dan dari dunia yang kupijak dengan cinta.
*catatan kecil yang tercecer di jeda perjalanan akreditasi Maret - Juli 2012*
Senin, 12 September 2011
RUMAH TERAKHIR DUNIA
Jum'at 3 Syawal 1432 H, 2 September 2011 resmilah kami menempati rumah baru kami. Semoga ini menjadi rumah terakhir kami di dunia. Hitung-hitung, sejak menikah kami sudah berpindah rumah sebanyak delapan kali. Lebih banyak dari pindahnya seekor kucing beranak. Pejaten, Harapan Baru, Pasirukem, Harapan baru, BBD, Permata Puri Laguna ( atas ), Permata Puri Laguna ( bawah ), Kp. Sabuk Alu, dan berakhir di sini : Jl. Dieng KM 3 No 79B Kalianget-Wonosobo.
Banyak teman yang bertanya-tanya gerangan apa mendadak pulang kampung. Dengan bercanda, kujawab kalah berperang melawan garangnya ibu kota Jakarta hehehe...
Bukan itu tentu alasana sebenarnya. Pulang kampung adalah cita-cita kami berdua, aku dan suami. Rencana awal memang, setelah anak-anak kuliah, kami berdua pulang kampung. Membuat basecamp di kaki gunung Sindoro. Melakukan perjalanan wisata, singgah beberapa lama di kota yang kami senangi, menuliskannya. Dan melakukan rehat perjalanan dengan "menemani" kost anak-anak yang sedang kuliah. Bila mereka kuliahnya tak sekota, digilir. Menyenangkan, bukan?
Ternyata, tak harus menunggu anak-anak kuliah. Di tengah perjalanan ekspedisinya, "Kita pulang ke Wonosobo setelah saya selesai ekspedisi, bagaimana?" tanya suamiku via sms. Entah, racun apa yang ditiupkan suamiku, aku seketika mengiyakan. Kontrak rumah akan selesai, Aulya rampung SMP, dan - baik aku maupun suamiku - tak terikat oleh pekerjaan yang mengharuskan berumah di Jakarta. Lebih dari itu, Jakarta tidak kondusif untuk kelanjutan sekolah anakku. Menurut kami berdua. ( Alif, si sulung, kami sekolahkan di Cirebon. Sekolah berasrama ). Aulya, yang semula keberatan pindah, akhirnya mau setelah kami memaknai kepindahan ini sebuah langkah hijrah.
Dan, di rumah inilah sekarang kami..
Pagi kedua di rumah baru, suamiku berdua Alif duduk-duduk di teras belakang yang menghadap bukit kecil di seberang sungai yang airnya mengirim suara gemericik surgawi dan melintasi pematang sawah yang mulai ditanam padi. "Serasa rumah villa, ya, Pak," ujar Alif sambil mengudap serabi yang dibeli bapaknya.
Untuk ukuran kami yang telah berpuluh tahun terbiasa hidup di pinggiran metropolitan Jakarta dengan rumah tanpa halaman, tembok dinding rumah harus berbagi dengan tetangga, dan sejauh-jauh mata memandang hanyalah bangunan-bangunan rumah, menemukan suasana baru yang sungguh sangat kontras adalah sebuah kemewahan yang luar biasa istimewa.
Suamiku tersenyum. "Kamu senang, Nak?"
Sulungku mengangguk.
"Sayang, nih, satu yang kurang..."
"Apa?"
"Nggak boleh merokok..." Suara suamiku terasa masygulnya.
"Katanya hijrah euy..."
Berkali-kali kutekankan, kepindahan kali ini adalah hijrah. Bukankah hijrah selalu bermakna menuju ke kebaikan? Bukankah dari merokok menjadi tidak merokok juga sebuah kebaikan? Coba dilihat dari sisi manapun - kecuali dari sisi penjual dan produsen rokok, tentu saja - tidak merokok pasti lebih baik dari pada merokok. Meski harus pakai sedikit ancaman, akhirnya suamiku mau untuk tidak merokok.
Inilah rumah kami. Semoga menjadi rumah terakhir dunia kami. Semoga menjadi rumah yang dirahmati, diridhai, dan diberkahi ALLAH. Semoga rumah ini dapat menjadi ladang amal shalih bagi para penghuninya yang ALLAH ridhai sehingga layak menjadi bekal kami menuju surgaNya. Dan, semoga keluarga kami menjadi keluarga sakinah, mawadah, warahmah. Semoga rumah ini menjadi surga kami. Meski tak bermeja-kursi :)
Robbana anzilna munzallan mubaarakan wa anta khayrulmunziliin, Ya Tuhan kami, tempatkanlah kami pada tempat yang diberkahi, dan Engkau adalah sebaik-baik pemberi tempat.
Banyak teman yang bertanya-tanya gerangan apa mendadak pulang kampung. Dengan bercanda, kujawab kalah berperang melawan garangnya ibu kota Jakarta hehehe...
Bukan itu tentu alasana sebenarnya. Pulang kampung adalah cita-cita kami berdua, aku dan suami. Rencana awal memang, setelah anak-anak kuliah, kami berdua pulang kampung. Membuat basecamp di kaki gunung Sindoro. Melakukan perjalanan wisata, singgah beberapa lama di kota yang kami senangi, menuliskannya. Dan melakukan rehat perjalanan dengan "menemani" kost anak-anak yang sedang kuliah. Bila mereka kuliahnya tak sekota, digilir. Menyenangkan, bukan?
Ternyata, tak harus menunggu anak-anak kuliah. Di tengah perjalanan ekspedisinya, "Kita pulang ke Wonosobo setelah saya selesai ekspedisi, bagaimana?" tanya suamiku via sms. Entah, racun apa yang ditiupkan suamiku, aku seketika mengiyakan. Kontrak rumah akan selesai, Aulya rampung SMP, dan - baik aku maupun suamiku - tak terikat oleh pekerjaan yang mengharuskan berumah di Jakarta. Lebih dari itu, Jakarta tidak kondusif untuk kelanjutan sekolah anakku. Menurut kami berdua. ( Alif, si sulung, kami sekolahkan di Cirebon. Sekolah berasrama ). Aulya, yang semula keberatan pindah, akhirnya mau setelah kami memaknai kepindahan ini sebuah langkah hijrah.
Dan, di rumah inilah sekarang kami..
Pagi kedua di rumah baru, suamiku berdua Alif duduk-duduk di teras belakang yang menghadap bukit kecil di seberang sungai yang airnya mengirim suara gemericik surgawi dan melintasi pematang sawah yang mulai ditanam padi. "Serasa rumah villa, ya, Pak," ujar Alif sambil mengudap serabi yang dibeli bapaknya.
Untuk ukuran kami yang telah berpuluh tahun terbiasa hidup di pinggiran metropolitan Jakarta dengan rumah tanpa halaman, tembok dinding rumah harus berbagi dengan tetangga, dan sejauh-jauh mata memandang hanyalah bangunan-bangunan rumah, menemukan suasana baru yang sungguh sangat kontras adalah sebuah kemewahan yang luar biasa istimewa.
Suamiku tersenyum. "Kamu senang, Nak?"
Sulungku mengangguk.
"Sayang, nih, satu yang kurang..."
"Apa?"
"Nggak boleh merokok..." Suara suamiku terasa masygulnya.
"Katanya hijrah euy..."
Berkali-kali kutekankan, kepindahan kali ini adalah hijrah. Bukankah hijrah selalu bermakna menuju ke kebaikan? Bukankah dari merokok menjadi tidak merokok juga sebuah kebaikan? Coba dilihat dari sisi manapun - kecuali dari sisi penjual dan produsen rokok, tentu saja - tidak merokok pasti lebih baik dari pada merokok. Meski harus pakai sedikit ancaman, akhirnya suamiku mau untuk tidak merokok.
Inilah rumah kami. Semoga menjadi rumah terakhir dunia kami. Semoga menjadi rumah yang dirahmati, diridhai, dan diberkahi ALLAH. Semoga rumah ini dapat menjadi ladang amal shalih bagi para penghuninya yang ALLAH ridhai sehingga layak menjadi bekal kami menuju surgaNya. Dan, semoga keluarga kami menjadi keluarga sakinah, mawadah, warahmah. Semoga rumah ini menjadi surga kami. Meski tak bermeja-kursi :)
Robbana anzilna munzallan mubaarakan wa anta khayrulmunziliin, Ya Tuhan kami, tempatkanlah kami pada tempat yang diberkahi, dan Engkau adalah sebaik-baik pemberi tempat.
Minggu, 31 Juli 2011
RAMADHAN 1432 H
Bismillah...
Senin 1 Agustus 2011 adalah hari pertama Ramadhan 2011. Ramadhan kali ini menjadi Ramadhanku yang pertama di Wonosobo. Ada banyak yang hilang...
Kegiatan yang biasa kulalui di Laguna, belum dapat kutemukan.
Laguna... Pada perjalanan, di titik inilah kutemukan tempat dimana aku bisa melihat lebih jernih setiap langkahku, baik yang sudah ataupun sedang berlangsung. Di titik inilah, kutemukan ketenangan jiwa. Di titik ini pula kudapatkan banyak sahabat dan saudara. Padahal di titik ini pula, secara materi aku bukan siapa-siapa. Dan, tidak punya apa-apa selain sepotong hati yang terbasuh hidayah.
Hidayah? Begitu percayadirikah aku menyebut diriku telah mendapat hidayah?
Ustadz Farid Nu'man pernah mengatakan bahwa hidayah itu seperti stop kontak listrik yang terpasang di dinding, di mana telah ada arus listrik dari PLN. Tinggal kita mau tidak menyalakan stop kontak listrik itu. Dan, aku semakin tak risau dengan apa pun yang melingkupi perjalanan ini. Dan di sebuah titik di sudut Laguna, kutemukan pula bahwa hidup ini adalah ujian. Ujian dengan sistem open book. Dengan bekal itulah, aku merasa hatiku telah terbasuh hidayah. Semoga bukan hanya impian kosongku belaka...
Betapa indahnya perjalananku di lorong Laguna. Apalagi di saat Ramadhan seperti ini. Taman surga yang terhampar di dunia menarik-narikku untuk selalu memasukinya.
Dan di sini sekarang, di Wonosobo - tempat aku dan keluargaku meniatkan sebagai basecamp - aku harus memulai segalanya dari nol. Hanyalah satu pintaku pada Allah rabb Sang Maha Pemberi, jangan surut langkah ini. Tidakkah merugi langkah yang surut itu? Dan, aku tak ingin pula terpaku pada jejak bayang masa lalu, betapapun pahit ataupun indah bayang itu.
Ramadhan pertamaku di Wonosobo. Smoga menjadi tonggak perjalanan hidayah yang lebih bercahaya karena setiap helaan nafas dan kedipan mata adalah jalan pasti menuju Allah...
Ya Allah, jadikan tempat kami bermukim sekarang ini sebagai ladang amal sholih bagi kami yang Engkau ridhoi dan Engkau rahmati sebagai bekal menujuMu. Aamiin ya Allah ya robbal 'alamiin.
Senin 1 Agustus 2011 adalah hari pertama Ramadhan 2011. Ramadhan kali ini menjadi Ramadhanku yang pertama di Wonosobo. Ada banyak yang hilang...
Kegiatan yang biasa kulalui di Laguna, belum dapat kutemukan.
Laguna... Pada perjalanan, di titik inilah kutemukan tempat dimana aku bisa melihat lebih jernih setiap langkahku, baik yang sudah ataupun sedang berlangsung. Di titik inilah, kutemukan ketenangan jiwa. Di titik ini pula kudapatkan banyak sahabat dan saudara. Padahal di titik ini pula, secara materi aku bukan siapa-siapa. Dan, tidak punya apa-apa selain sepotong hati yang terbasuh hidayah.
Hidayah? Begitu percayadirikah aku menyebut diriku telah mendapat hidayah?
Ustadz Farid Nu'man pernah mengatakan bahwa hidayah itu seperti stop kontak listrik yang terpasang di dinding, di mana telah ada arus listrik dari PLN. Tinggal kita mau tidak menyalakan stop kontak listrik itu. Dan, aku semakin tak risau dengan apa pun yang melingkupi perjalanan ini. Dan di sebuah titik di sudut Laguna, kutemukan pula bahwa hidup ini adalah ujian. Ujian dengan sistem open book. Dengan bekal itulah, aku merasa hatiku telah terbasuh hidayah. Semoga bukan hanya impian kosongku belaka...
Betapa indahnya perjalananku di lorong Laguna. Apalagi di saat Ramadhan seperti ini. Taman surga yang terhampar di dunia menarik-narikku untuk selalu memasukinya.
Dan di sini sekarang, di Wonosobo - tempat aku dan keluargaku meniatkan sebagai basecamp - aku harus memulai segalanya dari nol. Hanyalah satu pintaku pada Allah rabb Sang Maha Pemberi, jangan surut langkah ini. Tidakkah merugi langkah yang surut itu? Dan, aku tak ingin pula terpaku pada jejak bayang masa lalu, betapapun pahit ataupun indah bayang itu.
Ramadhan pertamaku di Wonosobo. Smoga menjadi tonggak perjalanan hidayah yang lebih bercahaya karena setiap helaan nafas dan kedipan mata adalah jalan pasti menuju Allah...
Ya Allah, jadikan tempat kami bermukim sekarang ini sebagai ladang amal sholih bagi kami yang Engkau ridhoi dan Engkau rahmati sebagai bekal menujuMu. Aamiin ya Allah ya robbal 'alamiin.
Selasa, 18 Mei 2010
proses pembelajaran
Membendung rasa rindu yang meluap perlahan...
Kubaca ulang seluruh catatan pribadi. Dari buku harian, surat-surat, hingga serpihan kenangan yang lain.
Aku menjadi malu, malu sekali...
Melihat sosok bayang diri pada cermin kusam. Bayangan terlihat kabur. Tetapi sorot itu jelas terlihat...betapa temperamentalnya diriku. Aku menemukan diri seperti anak sepuluh tahun yang terjebak pada tubuh seorang dewasa...
Tapi biarlah...
Tak akan kuhapus bayang itu. Tak akan kutinggal jejak itu..Tetapi, aku tidak ingin terpaku pada bayang masa lalu. Biarkan semua itu menjadi catatan sejarah perjalanan pendewasaan diri. Belajar sepanjang hayat...
Alhamdulillah, alangkah bersyukurnya aku...Betapa nikmat berlimpah. Suamiku, pendamping proses belajar itu. Pengalaman-pengalaman, guru berharga dalam setiap langkah. Anak-anak, sinyal benderang sebagai lentera perjalanan...
Aku tak sanggup menanggung malu ketika membaca lembaran-lembaran itu. Tak sanggup. Bahkan terhadap diri sendiri aku tak sanggup.. Juga, tak pula sanggup aku menahan air mata...
Allah, Tuhanku, terima kasih telah Engkau beri kesempatan untuk belajar, belajar, dan belajar. Terima kasih atas anugerah hidayah hingga kumampu mengambil hikmah. Terima kasih Allah-ku...
Kubaca ulang seluruh catatan pribadi. Dari buku harian, surat-surat, hingga serpihan kenangan yang lain.
Aku menjadi malu, malu sekali...
Melihat sosok bayang diri pada cermin kusam. Bayangan terlihat kabur. Tetapi sorot itu jelas terlihat...betapa temperamentalnya diriku. Aku menemukan diri seperti anak sepuluh tahun yang terjebak pada tubuh seorang dewasa...
Tapi biarlah...
Tak akan kuhapus bayang itu. Tak akan kutinggal jejak itu..Tetapi, aku tidak ingin terpaku pada bayang masa lalu. Biarkan semua itu menjadi catatan sejarah perjalanan pendewasaan diri. Belajar sepanjang hayat...
Alhamdulillah, alangkah bersyukurnya aku...Betapa nikmat berlimpah. Suamiku, pendamping proses belajar itu. Pengalaman-pengalaman, guru berharga dalam setiap langkah. Anak-anak, sinyal benderang sebagai lentera perjalanan...
Aku tak sanggup menanggung malu ketika membaca lembaran-lembaran itu. Tak sanggup. Bahkan terhadap diri sendiri aku tak sanggup.. Juga, tak pula sanggup aku menahan air mata...
Allah, Tuhanku, terima kasih telah Engkau beri kesempatan untuk belajar, belajar, dan belajar. Terima kasih atas anugerah hidayah hingga kumampu mengambil hikmah. Terima kasih Allah-ku...
Sabtu, 20 Maret 2010
kenangan
hari ini kuputuskan untuk membuang semua atribut masa lalu, sebuah istana kecil yang pernah selintas kami singgahi... bukti angsuran kpr, sertifikat dari btn, bukti tagihan telepon dan listrik, catatan dan kuitansi renovasi.
biarkan kenangan itu terpateri di ruang memori kecil ini saja.. hidup, tak terpaku pada jejak bayang masa lalu...
biarkan kenangan itu terpateri di ruang memori kecil ini saja.. hidup, tak terpaku pada jejak bayang masa lalu...
Sabtu, 04 Juli 2009
sekolah
Hari ini harusnya tes masuk sekolah. Tetapi aku telah memutuskan untuk tidak jadi sekolah lagi. Ada banyak pertimbangan yang menjadi alasannya.
Aku hanya bermohon padaNYA bahwa keputusanku itu adalah yang terbaik menurut Allah. Dan Allah ridho. Bukankah dalam hidup ini hanya ridho Allah yang hanya dan harus kita harapkan pinta?
Allah, aku bahagia telah mengambil keputusan yang menurutku telah tepat.
Belajar, bagiku sekarang ini, tidak harus di balik dinding bernama sekolah. Setiap tempat adalah sekolah. Setiap orang adalah guru. Belajar sepanjang hayat, tak berbatas ruang dan waktu.
Sekarang ini, aku tidak menemukan sebuah alasan urgensinya sekolah formal untukku. Kepentingan itu harus bergeser kepada kedua permata hatiku, yang jalannya masih jauh terbentang.
Allah, ridhoi selalu setiap langkah kakiku. Aku ingin membawa manfaat untuk banyak manusia di muka bumi ini. Aku ingin mengisi perjalanan ini dengan hal-hal yang jauh lebih berguna untuk manusia banyak, sebagai tambahan bekal perjalanan menujuMU.
Aku hanya bermohon padaNYA bahwa keputusanku itu adalah yang terbaik menurut Allah. Dan Allah ridho. Bukankah dalam hidup ini hanya ridho Allah yang hanya dan harus kita harapkan pinta?
Allah, aku bahagia telah mengambil keputusan yang menurutku telah tepat.
Belajar, bagiku sekarang ini, tidak harus di balik dinding bernama sekolah. Setiap tempat adalah sekolah. Setiap orang adalah guru. Belajar sepanjang hayat, tak berbatas ruang dan waktu.
Sekarang ini, aku tidak menemukan sebuah alasan urgensinya sekolah formal untukku. Kepentingan itu harus bergeser kepada kedua permata hatiku, yang jalannya masih jauh terbentang.
Allah, ridhoi selalu setiap langkah kakiku. Aku ingin membawa manfaat untuk banyak manusia di muka bumi ini. Aku ingin mengisi perjalanan ini dengan hal-hal yang jauh lebih berguna untuk manusia banyak, sebagai tambahan bekal perjalanan menujuMU.
Minggu, 28 Juni 2009
Kuasa Allah
Kemarin, Sabtu 27 Juni 2009, bertepatan dengan pengambilan raport anakku, 2 sms masuk ke inbox hpku...
"Sampan kami terbalik di Mentawai di laut. Kami selamat karena hanya 100 meter dari muara. Tapi laptop MacBook dan dua kamera terendam air laut, mungkin tak terselamatkan. Baru ada kapal ke Padang hari Selasa."
Dadaku bergemuruh. Kalau saja tidak ingat, bahwa takdir Allah selalu ada dalam setiap helaan nafas...
Tetapi, hatiku masih buram, menahan galau yang tetap saja ingin meloncat keluar. Mencoba menguatkan hatiku sendiri, kutulis balasan:
"Innalillahi wainna ilaihi raji'uun" ( bukankah hanya kata ini yang layak untuk disebut? ) "Astaghfirullah...Allahumma ajirnii fi musibatii wakhlifli khairan minhaa. Semoga Allah mengaruniakan kesabaran dan kemampuan mengambil hikmah, ya, sayangku..."
Aaahhh...sebenarnya semua yang kutulis itu lebih tepat ditujukan untuk diriku sendiri. Aku yakin, suamiku lebih tangguh menghadapi takdir itu.
"Bapak harusnya masuk Guiness Book of Record katagori Orang Yang Tidak Pernah Panik Sedunia," kesan anakku yang disematkan untuk bapaknya.
SMS kedua masuk ketika aku baru mulai melerai, berdamai dengan kehendak Yang Maha Berkehendak.
"Mbak, perutku mules keluar flek sama gumpalan darah. Apakah aku harus ke dokter?"
Tanpa jeda, langsung kubalas sms itu.
"Harus, Mbak. Segera saja..."
Aku ngeri membayangkan apa yang akan terjadi. Tetapi, tentu, tak kusampaikan kengerianku itu.
"Aku berangkat ke dokter sekarang. Doakan yang terbaik ya say..."
Berdebar, kubalas "Iya Mbak. Yang sabar, ya, biasanya kalau sudah seperti itu tidak bisa dipertahankan lagi."
Seharusnya aku tidak boleh menulis kata-kata seperti itu, karena aku yakin seyakin-yakinnya dia pasti langsung terguguk menangis. Tetapi, selain karena aku tidak punya kata-kata, aku juga ingin agar dia siap mental mengahadapi kenyataan...
Aaahhh...berbicara memang lebih mudah dari pada menjalaninya. Nyatanya, baru beberapa menit lalu aku yang barusan menitip pesan untuk sabar kepada sahabatku, kelimpungan ketika membayangkan suamiku harus kehilangan laptop dan kamera...
Mataku selalu kuarahkan ke jam dinding di atas televisi itu. Kuhitung-hitung kira-kira sudah sampai apa dokter melakukan tindakan ke sahabatku. Dua jam lewat. Aku tidak berani sms. Aku takut menghadapi kekecewaan dan kesedihan sahabatku.
"Alhamdulillah, Mbak, janinnya bagus. Aku harus bedrest 3 hari. ALLAHU AKBAR! SUBHANALLAH.."
Aku meloncat dari rasa kantuk.
Benarkah???
Lagi-lagi kuasa Allah, Rabb Yang Maha Berkuasa. Aku merasa tertampar, "Jangan takabur, kamu, takdirKU berlaku di atas kehendakKU."
Aku terjerembab jauh ke jurang ketakberdayaan dan kebodohan.
Manusia hanyalah hamba. Yang tidak bisa menentukan takdir apapun. Seharusnyalah, aku berhati-hati dalam berucap...
"Sampan kami terbalik di Mentawai di laut. Kami selamat karena hanya 100 meter dari muara. Tapi laptop MacBook dan dua kamera terendam air laut, mungkin tak terselamatkan. Baru ada kapal ke Padang hari Selasa."
Dadaku bergemuruh. Kalau saja tidak ingat, bahwa takdir Allah selalu ada dalam setiap helaan nafas...
Tetapi, hatiku masih buram, menahan galau yang tetap saja ingin meloncat keluar. Mencoba menguatkan hatiku sendiri, kutulis balasan:
"Innalillahi wainna ilaihi raji'uun" ( bukankah hanya kata ini yang layak untuk disebut? ) "Astaghfirullah...Allahumma ajirnii fi musibatii wakhlifli khairan minhaa. Semoga Allah mengaruniakan kesabaran dan kemampuan mengambil hikmah, ya, sayangku..."
Aaahhh...sebenarnya semua yang kutulis itu lebih tepat ditujukan untuk diriku sendiri. Aku yakin, suamiku lebih tangguh menghadapi takdir itu.
"Bapak harusnya masuk Guiness Book of Record katagori Orang Yang Tidak Pernah Panik Sedunia," kesan anakku yang disematkan untuk bapaknya.
SMS kedua masuk ketika aku baru mulai melerai, berdamai dengan kehendak Yang Maha Berkehendak.
"Mbak, perutku mules keluar flek sama gumpalan darah. Apakah aku harus ke dokter?"
Tanpa jeda, langsung kubalas sms itu.
"Harus, Mbak. Segera saja..."
Aku ngeri membayangkan apa yang akan terjadi. Tetapi, tentu, tak kusampaikan kengerianku itu.
"Aku berangkat ke dokter sekarang. Doakan yang terbaik ya say..."
Berdebar, kubalas "Iya Mbak. Yang sabar, ya, biasanya kalau sudah seperti itu tidak bisa dipertahankan lagi."
Seharusnya aku tidak boleh menulis kata-kata seperti itu, karena aku yakin seyakin-yakinnya dia pasti langsung terguguk menangis. Tetapi, selain karena aku tidak punya kata-kata, aku juga ingin agar dia siap mental mengahadapi kenyataan...
Aaahhh...berbicara memang lebih mudah dari pada menjalaninya. Nyatanya, baru beberapa menit lalu aku yang barusan menitip pesan untuk sabar kepada sahabatku, kelimpungan ketika membayangkan suamiku harus kehilangan laptop dan kamera...
Mataku selalu kuarahkan ke jam dinding di atas televisi itu. Kuhitung-hitung kira-kira sudah sampai apa dokter melakukan tindakan ke sahabatku. Dua jam lewat. Aku tidak berani sms. Aku takut menghadapi kekecewaan dan kesedihan sahabatku.
"Alhamdulillah, Mbak, janinnya bagus. Aku harus bedrest 3 hari. ALLAHU AKBAR! SUBHANALLAH.."
Aku meloncat dari rasa kantuk.
Benarkah???
Lagi-lagi kuasa Allah, Rabb Yang Maha Berkuasa. Aku merasa tertampar, "Jangan takabur, kamu, takdirKU berlaku di atas kehendakKU."
Aku terjerembab jauh ke jurang ketakberdayaan dan kebodohan.
Manusia hanyalah hamba. Yang tidak bisa menentukan takdir apapun. Seharusnyalah, aku berhati-hati dalam berucap...
Astaghfirullahal 'adzim, ya Allah, atas kesombonganku mendahului kehendakMU...
Rabu, 17 Juni 2009
alasan
Mengapa setelah beberapa bulan blog ini dibuat belum juga diisi?
Semula memang ada semangat yang berkobar-kobar untuk segera menulis yang hampir setiap hari menggedor isi kepala.
Tetapi, setelah pulang ke rumah, beraktivitas kembali seperti sedia kala, semangat yang menggebu itu hilang seperti terhempas air bah.
Dan niat terpaterikan, akan mulai menulis pada saat suamiku berangkat ekspedisi.
Ternyata, belum kesampaian juga...
Nah,
malam ini, sembari memeloloti tv yang disibukkan oleh kampanye pilpres, aku ingin mencoba mulai menulis.
Ini hari ke tujuh belas suamiku menikmati petualangan. Bisa jadi malam ini suamiku sedang mengadakan acara perpisahan dengan teman-teman barunya di Enggano....
Semula memang ada semangat yang berkobar-kobar untuk segera menulis yang hampir setiap hari menggedor isi kepala.
Tetapi, setelah pulang ke rumah, beraktivitas kembali seperti sedia kala, semangat yang menggebu itu hilang seperti terhempas air bah.
Dan niat terpaterikan, akan mulai menulis pada saat suamiku berangkat ekspedisi.
Ternyata, belum kesampaian juga...
Nah,
malam ini, sembari memeloloti tv yang disibukkan oleh kampanye pilpres, aku ingin mencoba mulai menulis.
Ini hari ke tujuh belas suamiku menikmati petualangan. Bisa jadi malam ini suamiku sedang mengadakan acara perpisahan dengan teman-teman barunya di Enggano....
Langganan:
Postingan (Atom)