Sabtu, 13 Oktober 2012

REUNI ( 1 )

Akhirnya sore ini bisa bertemu dengan teman yang telah terentang 33 tahun lamanya tak sua. Meski baru dengan Waluyo, Siti, dan Siroh tetapi telah mampu menghilangkan debar cemas semalam, khawatir tak jadi bertemu.

Berempat sepakat bahwa angkatan kami sepertinya angkatan yang banyak istimewanya. Barangkali bermula karena pada angkatan kami-lah terjadi perubahan tahun ajaran baru yang semula Januari menjadi Juli. Sisa waktu satu semester membuat kami mempunyai banyak kesempatan.

Setiap hari Sabtu, hari terakhir sekolah dalam sepekan, kami selalu diberi hadiah. Begitu masuk kelas setelah istirahat siang, di papan tulis telah tergambar empat sekuel lukisan kapur tulis. Kami menghabiskan siang itu dengan mendengarkan dongeng Pak Sukir.

"Salah sawijining dino...." adalah kalimat pembuka setiap dongengnya. Pembuka itu selalu dengan suara bariton dan penekanan nada yang membuat kami langsung terpaku penasaran. kemudian suara dan intonasi Pak Sukir akan berubah-ubah sesuai karakter dongeng yang disampaikan. Membuat kami selalu terpukau memperhatikan gerak-gerik Pak Sukir nyaris tak berkedip. Tersihir. ( Terima kasih, Pak Sukir, bekal itu ternyata sangat bermanfaat tatkala aku dihadapkan kepada kedua anakku menjelang tidur mereka. Meski cara mendongengku tak sehebat cara mendongeng Pak Sukir, aku sangat bersyukur bisa mendongeng untuk kedua anakku....)

Kalau tidak salah, angkatan kami satu-satunya yang melakukan perjalanan rekreasi dalam tiga kali kesempatan. Kesempatan pertama, menjelajah sepertiga wilayah kecamatan barat selatan. Kesempatan kedua, selang sepekan setelahnya, menjelajah sepertiga wilayah kecamatan barat laut dan utara. Dan penjelajahan itu berakhir pada sepekan kemudian, menghabiskan sisa wilayah kecamatan sisi timur laut dan timur.

Penjelajahan itu banyak sekali menyimpan pembelajaran bagiku. Melatih kekuatan fisik itu pasti, karena hamparan 13 desa itu kami jelajahi dengan jalan kaki. Tak peduli tak bersepatu, kaki kami semangat melangkah menaiki bukit, menuruni lembah, menyusuri pematang, dan menyeberangi sungai. Sepekan setelah penjelajahan itu berakhir, kedua kuku ibu jari kakiku terlepas, karena di penjelajahan terakhir ingin bergaya dengan memaksakan diri memakai sepatu yang kesempitan.

Belajar menyintai alam dan lingkungan, itu bonus yang lain. Bagaimana aku tidak menjadi cinta, bila dalam sepanjang perjalanan itu yang disuguhkan ALLOH adalah laksana hamparan surga yang dilukiskan di kanvas dunia. 

Penjelajahan itu bukan hanya sekadar penjelajahan alam. Di setiap desa kami diajak Pak Sukir untuk singgah di sekolah yang ada. Berkenalan dengan para guru dan siswa sekolah tersebut. Menjaga silaturahim dengan siapapun, barangkali itu yang hendak Pak Sukir ajarkan kepada kami.

Untuk itu, di pertemuan tadi kami sepakat untuk memulai ikatan di antara kami dan teman-teman adalah bersilaturahim ke Pak Sukir. Dengan teman yang lebih banyak tentunya. Insya Alloh setelah Iedul Adha. Siroh, juragan ikan asin itu yang akan menjadi koordinator acara tersebut. Tak perlu mewah, yang penting harus istimewa. Setelah itu barulah kami akan membuat kesepakatan lain bentuk ikatan silaturahim itu. Yang jelas tidak akan menggunakan media sosial semacam facebook ataupun twitter. Bukan apa-apa. Kami hanya ingin silaturahim itu bernilai lebih. Dan, akan selalu istimewa.

Jumat, 05 Oktober 2012

dr. Dyah



Sehari menjelang mengikuti Bimbingan Teknis Standar Akreditasi Baru di Bandungan, bersama Direktur dan Ketua Yayasan.... Begitu saja teringat dr. Dyah....
*dr. Dyah, beginilah cara saya membangun semangat diri agar tetap dapat bertahan di sepanjang perjalanan akreditasi yang lalu*

***


(Selasa, 5 Juni 2012 22.24)

Dear dr. Dyah....
Saya bersyukur dipertemukan dengan dr. Dyah...
Ijinkan saya mundur beberapa langkah, menapaktilasi perjalanan yang berujung pada pertemuan kita. Saya menolak masuk sebuah rumah sakit, tapi tak kuasa untuk tidak menerima tawaran ketua yayasan rumah sakit ini, yang membuat beberapa orang bertanya kenapa. Dan dr. Dyah tak mau menerima tawaran ke Lampung, tapi semangat berkunjung ke kota kami. Semuanya terlihat begitu indah, tertata dengan rapi, penuh perhitungan yang seksama sehingga terbentuk harmoni yang menakjubkan. Saya baru mulai bisa memandangnya sekarang. Alangkah indahnya, meski saya berjalan hanya mengikuti aliran tempat menuju..... *Tatkala perjalanan ini bersandar pada aliran arus-Nya, tak perlu banyak tanya meski awalnya tak paham arah. Tak usah bingung meski tak mengerti. Asal tujuan kita pasti - semata hanya karena Allah, insya Allah kita tak kan tersesat. (terngiang nasehat seorang sahabat)*

(Rabu, 6 Juni 2012 22.19)

Dear dr. Dyah...
Hari ini saya masuk kerja dengan mata yang sembab sangat. Saya tidak peduli. Hampir semua mata yang beradu dengan mata sembab saya bermimik penuh tanya. Kenapa saya harus peduli?
Hanya teman saya berdua itu yang tak menanyakan apapun. Mereka telah tahu. Semalam, sms dr. Dyah telah saya forward ke mereka berdua. “Njuk, piye, jaaaal...?” Bunyi sms yang sama dari mereka berdua serentak bersambung. Kita harus tetap semangat, kata saya. Ah, sebenarnya kata itu saya tujukan hanya untuk diri sendiri karena begitu saja jiwa ini terpuruk luruh. Bukan soal bisa atau tidak bisanya konsultasi lagi yang jadi sebab. Bukan soal itu. Luruh ini semata karena takut kehilangan...

Dear dr. Dyah...
Rentang perjalanan di episode akreditasi ini, saya telah kehilangan banyak hal. Dan semua itu menjadi sebuah kemewahan yang semakin saya rindukan dalam ketakberdayaan.

(Kamis, 7 Juni 2012 22.37)

Dear dr. Dyah....
Saya bersyukur dipertemukan dengan dr. Dyah...
Alangkah lucunya sehari tadi... Baru sehari tadi, Dok... Sehari. Sehari tidak ada e-mail dari dr. Dyah, kami sudah merasa kehilangan... Entah berapa kali kami bergantian mengintip inbox e-mail di sela kesibukan kami menata ulang dokumen seraya mengoreksinya, berharap ada sebuah - sebuah saja -  e-mail dr. Dyah menyapa kami. E-mail yang membuat kami terpompakan semangatnya. E-mail yang membuat kami tertawa kegirangan. E-mail yang membuat kami merasa begitu dekat dengan dr. Dyah walaupun dr. Dyah nun jauh di sana. E-mail yang membuat kami merasa bahwa dr. Dyah adalah teman seperjalanan kami yang menyenangkan dalam menempuh akreditasi ini.
Baru sehari tanpa e-mail dr. Dyah, kami telah kehilangan....

Dear dr. Dyah....
Alhamdulillah, meskipun harus kehilangan banyak hal saya bersyukur diberi kesempatan oleh Allah untuk belajar sesuatu yang sama sekali baru bagi saya.
Periode ini tidak akan terlupa. Meski di rentang perjalanannya sering membuat jiwa luruh di titik nadir. Meski ujung episodenya belum terlihat bentuknya. Saya akan selalu memandangnya dengan pandangan yang sama yang sering dr. Dyah sampaikan, indah terasa. Kehendak Allah terasa indah pada saatnya.

(Jum’at , 8 Juni 2012 22.23)

Dear dr. Dyah....
“Ceria sekali, sudah dapat kabar apa dari dr. Dyah?” sapa Ketua Yayasan di ujung anak tangga siang tadi. Saya tersenyum, “Standar 7 sudah dibalas, Bu.”
Gara-gara mata sembab saya beberapa hari lalu itu, Ketua Yayasan selalu menunggu saya di ujung anak tangga untuk sekadar menanyakan kabar dr. Dyah.

Dear dr. Dyah...
Pagi tadi kehebohan pecah di ruang apotek karena BBM-an dr. Dyah dengan mereka.
“Lihat, nih, lihat... Masa’ gini banget, sih? bla...bla...bla...jujur, ya, berat untuk lulus...”
Saya tersenyum getir. Bukan karena kabar itu, tentu.
“Apa yang akan terjadi kalau dr. Dyah bilang bisa lulus?” saya bertanya sambil melerai jiwa yang gelisah.
“Kita akan lengah. Menjadi santai karena sudah merasa bisa lulus,” sambung saya tatkala matanya tertuju pada pertanyaan saya tanpa jawab. “Jadikan kata-kata dr. Dyah sebagai cambuk, kerja semaksimal mungkin dan berdoa. Hasilnya serahkan kepada ALLOH. Beres, kan?”
Ah, lagi-lagi, sebenarnya kata-kata itu saya tujukan untuk diri saya sendiri.

Dear dr. Dyah...
Rumah sakit ini adalah salah satu sekolah saya... 
Saya selalu didera kegelisahan sejak kepulangan saya di kota ini. Dan kegelisahan itu semakin menampakkan bentuknya setelah saya diberi ALLOH kesempatan untuk bergabung di rumah sakit ini.

(Sabtu, 9 Juni 2012 22.28)

Dear dr. Dyah...
Semenjak bimbingan, Sabtu adalah jadwal duduk bersama antara Yayasan, Direktur, dan Tim Akreditasi....
Kembali dr. Dyah menjadi trending topic... Ketua Tim Akreditasi menanyakan kepada saya, apakah begitu juga dr. Dyah kepada pokja saya. Serentak bertiga menjawab tidak...”Saya baca komentarnya, kesannya dr. Dyah ini kok kecewa sekali, marah,” lanjutnya.
Kami bertiga tetap dalam diam karena tidak tahu harus berkata apa.

(Ahad, 10 Juni 2012 23.33)

Dear dr. Dyah...
Terbangun dari tidur yang tak pernah lagi bisa nyenyak sejak episode ini...
Malu sebenarnya menyampaikan hal ini... Kesemrawutan yang nyaris sempurna...

(Senin, 11 Juni 2012 23.40)

Dear dr. Dyah...
Sepulang mengirim buku, saya dibanjiri semangat yang luar biasa dahsyatnya. Tak peduli menjadi sendiri di pojok ruang karena kedua teman saya pulang awal, target hari ini saya kebut. Alhamdulillaah....

Dear dr. Dyah...
Saya akan menunaikan janji yang diamanahkan kepada saya semampu yang saya bisa kerjakan. Semaksimal mungkin. Tak peduli lagi, apa hasil yang akan didapatkan. ALLOH Maha Tahu kehendak-Nya yang lebih baik dari keinginan saya.

Dear dr. Dyah...
Semangat itu menjadikan saya mendapatkan kembali sebagian apa yang telah hilang sebelumnya. Saya baru menyadari bahwa telah begitu lama tak memperhatikan ikan-ikan di kolam *memaksa saya menyari dedaunan di ujung keremangan senja*. Bisa menikmati detil lain meskipun sudah berkali-kali nonton Blood Diamond. Bisa kembali asyik membaca buku... Alhamdulillah Robb-ku, takdir-Mu di atas kehendak-Mu....

(Selasa, 12 Juni 2012 22.18)

Dear dr. Dyah...
*Kabar yang saya dapat hari ini membuat saya luruh kembali*
Semakin jauh saya berjalan di episode ini, rasa syukur saya semakin membuncah. Saya semakin bisa melihat bahwa ALLOH menghendaki saya memanfaatkan kesempatan di rumah sakit ini untuk terus belajar dan belajar yang akan membuat saya bisa memahami esensi sebuah akreditasi. Tak hanya hasil yang harus lulus, tetapi bagaimana sebuah proses harus berjalan sebagaimana mestinya. InsyaALLAH dr. Dyah, prinsip akreditasi dan ilmu lain yang saya dapatkan dari sekolah ini akan saya terapkan pada klinik kecil impian saya. Impian yang menjadi pemicu semangat saya untuk mau pulang.... Alangkah indahnya takdir ALLOH, segalanya tertata dengan rapi dan dalam perencanaan yang luar biasa sempurna. Sejak awal.

(Rabu, 13 Juni 2012 22.12)

Dear dr. Dyah...
Ada ruginya juga, sebenarnya, menjadi pokja yang dibimbing dr. Dyah. Kini, bila Ketua Yayasan tidak yakin akan suatu hal, pokja kami diminta meneliti dan mengoreksinya. Kami dipaksa untuk menjelma menjadi seperti dr. Dyah yang telitinya luar biasa (kalau Ketua Tim Akreditasi bilang, perfeksionis hehehe....). Kami menjadi serba salah dengan pokja lain....

Dear dr. Dyah...
Saya bersyukur dipertemukan dengan dr. Dyah...
Bisa jadi, bila bukan dr. Dyah yang membimbing, kami justru akan semakin tersesat dalam ketakmengertian kami akan akreditasi – bahkan pada hal yang oleh kami terlihat sepele dalam detil. Sekarang kami bisa melihatnya dengan jernih kesalahan-kesalahan pembuatan dokumen. Kini kami dapat “membaca” bagaimana dokumen harus dipersiapkan dan diimplementasikan. Dan yang terpenting dari semua itu, saya telah menemukan esensi akreditasi... Inilah sebagian kehendak ALLOH yang Maha Sempurna itu...

Dear dr. Dyah...
Jadi benarlah adanya kesan pertama dr. Dyah saat berhadapan dengan kami, terutama saya yang selama ini terlalu cinta dengan layanan primer dan dalam waktu kurang dari 3 bulan diminta mempelajari dan membantu menyiapkan akreditasi layanan sekunder, bahwa kami belum memahami instrumen akreditasi dengan baik....

(Sabtu, 16 Juni 2012 22.45)

Dear dr. Dyah...
Apakah saya harus bersorak girang, ataukah menangis masygul. Tapi tatkala tadi diberitahu, jiwa saya semakin luruh...entah untuk alasan apa. Yang pasti, saya semakin bersyukur dipertemukan dengan dr. Dyah. Saya semakin bersyukur bisa belajar banyak dari segala hal. Saya semakin bersyukur, kehilangan banyak hal itu ALLOH ganti dengan banyak hal yang lain...

Dear dr. Dyah...
Dalam luruh jiwa yang sangat, alhamdulillah, masih bisa tetap tegak karena rasa syukur...”Ya Tuhan kami, berilah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah petunjuk yang lurus bagi kami dalam segala urusan kami.”

(Rabu, 20 Juni 2012 23.01)

Dear dr. Dyah....
Luruh itu semakin menghunjam dalam, hingga hampir tak bertepi, ketika apa yang disampaikan justru membuat saya semakin terhempas gamang.
Haruskah luruh itu memupus semangat yang telah mulai meredup? Perjalanan episode ini kini semakin sepi dalam sunyi tatkala bertiga telah mulai terhuyung, meski riuh di luarnya....*Can you trust the accredited hospitals? Honestly, i don’t think so... It’s all just about the paperworks... In fact, some hospitals just fake them in order to get accredited... Sad but true... ( sontak terngiang ujar seorang teman dalam sebuah diskusi nun jauh di sana )*
Kalaulah bukan karena janji di atas nama ALLOH......

(Senin, 25 Juni 2012 22.50)

Dear dr. Dyah...
Hari ini satu teman saya pulang awal karena batita-nya tidak sehat. Satunya lagi lesu kehilangan darah kata dan semangat karena beberapa hari ini juga harus mengurus batita-nya yang sakit. Beginilah ketika harus menjadi perempuan tangguh.

Jiwa-jiwa luruh yang tertinggal dalam ruangan itu begitu saja terpompakan semangatnya ketika menemukan foto-foto saat bimbingan dengan dr. Dyah...
“Tak mengapa, deh, tak ada e-mail, foto pun jadilah,” gurau saya membangun semangat diri yang diaminkan teman saya dengan tak kalah sumringahnya.
Subhanallah... Efeknya luar biasa! Terkikis sudah jenuh yang mulai menggayut diri. Hilang sudah wajah kuyu tak berdarah kata dan semangat itu!

Dear dr. Dyah...
Alhamdulillah, terima kasih telah menjadi teman perjalanan kami hari ini, meski tanpa dr. Dyah sadari. Inilah kebajikan amal yang dr. Dyah tanam. Semoga kelak di Hari Pembalasan dr. Dyah dapat memanen buahnya dengan hati riang karena ridho ALLOH Sang Pemberi Balasan, sebaik-baik pemberi balasan.

(Senin, 2 Juli 2012 23.16)

Dear dr. Dyah...
Tumbang juga akhirnya...
Kedua teman saya tak berdaya menghadapi hantaman common cold. Hari ini terasa semakin sepi berada di antara berseraknya dokumen. Dan sepi itu semakin menggigit tatkala ada curhat colongan TS Sp.A baru... Gelisah yang semula telah ada sedikit penawar, mulai menggeliat lagi...

Dear dr. Dyah...
Kota ini laksana dua gunung yang memangkunya. Dilihat dari kejauhan, indah nampak dalam birunya. Namun dalam kedekatannya, tak semulus nampak dari kejauhannya. Jurang, tebing, tanjakan terjal, turunan curam, belukar...semua penuh nafas perjuangan....

Dear dr. Dyah....
Jadi teringat sebuah potongan puisi Iqbal,
“ciptakan tubuh dari sejumput debu
tubuh yang kuat tinimbang benteng batu
ciptakan di dalamnya hati yang tabah menanggung rasa sakit
bagaikan anak sungai yang mengitari lereng-lereng bukit”
Puisi yang menguntai sebuah doa...

(Rabu 11 Juli 2012 05.35)

Dear dr. Dyah...
Selesai sudah amanah itu...
Haruskah bersorak riang? Entahlah.... Di antara rasa syukur, terselip gelisah jua. Saya khawatir, bahwa saya telah mulai menjadi katak rebus....

Dear dr. Dyah...
Rekomendasi tim surveior itu, tentu, akan saya jadikan sebagai salah satu pertimbangan dalam memilih setelah episode akreditasi ini “berakhir”... Bukankah telah semestinya, proseslah yang terpenting, bukan hasil itu sendiri?

Dear dr. Dyah...
Saya bersyukur dipertemukan dengan dr. Dyah. Doakan saya, semoga dapat tetap istiqomah di jalan takwa. Doakan saya, semoga saya – seperti dr. Dyah lakukan juga – dapat menghindar dari setiap hal yang menjerumuskan saya dalam kesalahan. Doakan saya, semoga saya sedang tidak menjadi katak rebus....

( Senin 16 Juli 2012 23.24 )

Dear dr. Dyah...
Telah saya temukan jawab mengapa saya merasa begitu dekat dengan dr. Dyah. Pertama, dari semua, dr. Dyah-lah yang paling “steril” akan rumah sakit ini. Dengan demikian dapat melihat secara jernih dan obyektif kondisi rumah sakit ini.  Kedua,  apa yang direkomendasikan dr. Dyah memudahkan urusan saya. Terutama tentang WB. Ketiga, ini alasan personal, dr. Dyah mengingatkan saya pada dua sosok sahabat saya sekaligus.

Dear dr. Dyah...
Untuk jiwa yang selalu gelisah dan banyak kehilangan, hal itu menjadi hadiah terindah dari ALLOH yang Maha Sempurna setiap detil rencana dan kehendak-Nya.

Dear dr. Dyah...
Jazakumullah khairan katsiran, semoga ALLOH membalas kebaikan yang dr. Dyah tanam dengan lebih banyak lagi kebaikan-kebaikan di dunia dan di akhirat.

Dear dr. Dyah....
Teruslah dan tetaplah lurus istiqomah di jalan takwa. Semoga setiap langkah dan helaan nafas dr. Dyah menjadi rangkaian anak tangga menuju surga, dan setiap tetes peluh menjadi untaian mutiara-Nya. Aamiin ya ALLOH ya mujibussailiin.

(Selasa 31 Juli 2012 22.52)

Dear dr. Dyah...
Siang hendak pulang tadi, Ketua Tim Akreditasi memberikan berita di bawah anak tangga, bahwa telah ada kabar dari Jakarta rumah sakit ini lulus akreditasi. Saya berbalik arah tak jadi pulang sepeninggal beliau, menemui teman saya. “Alhamdulillah, lega rasanya seperti orang habis melahirkan,” ujarnya menyambut kabar itu.

Dear dr. Dyah...
Bagi saya, hanya satu alasan yang membuat saya lega dengan kelulusan itu, bisa meninggalkan rumah sakit ini dengan langkah ringan... Hanya itu... Selebihnya, jujur di paling dalam sanubari, gelisah saya kian menjadi....

Kamis, 27 September 2012

ASA

Setelah beberapa langkah menuju, bukan pada perjalanan semula, semakin kuyakin bahwa mempunyai klinik sendiri adalah hal yang paling ideal untuk jiwa yang masih senantiasa gelisah ini.

Hijrah adalah menuju perbaikan, bukan?
Untuk apa kalau langkahku kembali seperti semula, pada titik awal pijakan?

*dan, semakin yakin aku bahwa sebaik apapun di situ, bukan itu duniaku.
*setiap warta yang mengabarkan bahwa kiriman yang menuju padanya justru membuatnya bingung dan puyeng, semakin aku yakin bahwa bukan di situ duniaku...semoga semua itu adalah sinyal-sinyal dari Allah agar aku kembali ke niat semula. Kembali ke dunia yang telah menjadi bagian jiwaku. Bukan di situ tempatku. Karena tempat itu semakin menjauhkanku dari segala yang kusuka, dari hal yang kusayang, dari udara yang kuhirup sekuat jiwa, dan dari dunia yang kupijak dengan cinta.

*catatan kecil yang tercecer di jeda perjalanan akreditasi Maret - Juli 2012*

Jumat, 31 Agustus 2012

KEHILANGAN

Ahad ini kembali kutemukan indahnya hari. Mengikuti kegiatan teman-teman UDD ke Desa Bener, Kepil memberikan kesejukan bagi jiwa yang mulai gelisah. Semilirnya angin dalam perjalanan menuju dan dari desa itu meluruhkan penat yang menggumpal di sanubari. Puncak kepenatan itu adalah balasan sms yang tidak seperti aku harapkan semalam.. "biasanya kalau saya kirim dokumen langsung aja tuh"... aku yakin sepertinya ada yang tidak terjelaskan. Ketika kutanyakan kepada suami tentang hal itu, dia menjawabnya persis sama dengan apa yang kubayangkan... Ah, biarlah itu terselesaikan besok, insya Allah... Aku tak hendak lagi membawa soal itu ke kehidupan rumahku. Kucoba, kucoba, kucoba...meski terasa berat....

Aku telah kehilangan banyak hal selama proses ini berlangsung. Andai bukan karena telah telanjur janji, ingin kusegera mengakhirinya. Berkali-kali nuraniku berkata, bukan di situ tempatku. Bukan itu duniaku.... Layanan primerlah nafas profesiku. 

Aku sangat menikmati hari Ahadku ini. Aku sangat menyukai waktuku saat tadi. Detik ke detik yang menghimpun waktu, terasa nikmatnya. Meski terselip rasa was-was, kalau-kalau hal yang tak diharapkan terjadi. Alhamdulillaah, Allah memudahkan segala urusanku seperti yang kupinta. Ya Allah Ya Rabb, jadikan langkahku tadi sebagai salah satu penyusun tangga menuju surga-Mu....

Aku sangat menikmati hari Ahadku ini. Menyembuhkan luka, kecewa, dan gelisah. Menumbuhkan energi yang nyaris habis tergerus gundah. Terlalu seriuskah diriku?

Aku menikmati hari Ahadku ini. Sama seperti Ahad sepekan lalu, ketika aku menyusuri Dukuh Jambon, Sojopuro. Meskipun hal yang paling kubenci harus menemaniku: tumbuhnya tunas-tunas pohon tembakau hampir memenuhi sebagian besar perjalananku. Tapi, itulah perjalanan pengobat, hingga sedih karena banyak salah saat bimbingan sehari sebelumnya menguap tak bersisa.

Di Jambon, aku baru tahu bahwa untuk sabun cuci dibeli dengan kredit pada harga yang berlipat-lipat. Sabun telah habis terpakai, hutang belum lunas. Dan begitu daur berulang. Semakin menumpuk hutang, karena sabun menjadi kebutuhan pokok harian mereka.

Aku menikmati hari Ahadku lalu. Pada para ibu muda yang bersemangat mengubah segala. Semangat itu menular kepada jiwaku yang mulai kehilangan banyak hal. Dan, semakin menggebu memeluk jiwa saat pompa semangat sapu lidi koperasi yang kuhembuskan disambutnya dengan gempita. Allah, Rabbku, mudahkan segala soal ketika aku telah kehilangan banyak hal.

Aku menikmati hari Ahadku ini. Sama seperti hari Ahadku sepekan lalu. Aku menemukan kembali apa yang telah hilang beberapa bulan ini, di kedua hari Ahad terakhir ini. 

Aku menikmati hari Ahadku ini. Sama seperti hari Ahadku sepekan lalu. Energiku kembali tumbuh, setelah sempat luruh tersapu. Lihatlah ibu-ibu perkasa itu. Meski tubuh telah menghimpun begitu banyak usia, tetapi semangat tak pernah pudar. Kehilangan, justru menumbuhkan kebahagiaan jiwa. Kehilangan menjadi sebab tumbuhnya kesabaran. Kehilangan menjadikan mata jiwa semakin bercahaya...

Aku memang telah banyak kehilangan. Pada segala hal. Tetapi, aku menikmati hari Ahadku ini dengan suka cita. Sebuah Ahad, di 27 Mei 2012.....

Jumat, 16 Desember 2011

WIWIK

Sampai sekarang aku tidak pernah tahu nama lengkapnya. Padahal dia adalah sahabat akrab masa kecilku. Sangat, sangat akrab. Meski dia satu tingkat di atas kelasku, nyaris tiada hari tanpa aku dan dia bermain bersama. Bahkan tidur pun lebih sering bersama. Kadang di rumahku, sesekali di rumahnya. Kebetulan rumahnya bersebelahan dengan rumah dinas orangtuaku.

Dia anak orang paling kaya di kampungku, Ngebrak.

Halaman rumahnya dipenuhi berbagai macam bunga. Ada satu pohon bunga yang jadi incaranku dan teman-teman lain sebagai bunga idola. Bunga itu jarang berkembang. Harumnya saat mekar terasa lembut. Berbeda dengan harumnya mawar ataupun melati yang tajam. Kelopak luarnya saat masih kuncup warnanya ungu kemerahan. Kelopak dalamnya, bila mekar, berwarna kuning pastel. Kami menyebutnya bunga cempoko boros.

Ada satu kejadian yang tidak terlupakan berkaitan dengan bunga satu ini. Waktu itu giliran kepemilikan telah aku proklamirkan. Tidak sia-sia rasanya setiap pagi sebelum mandi, hampir sebulan lamanya, selalu kusempatkan untuk melihat-lihat bila kembang idola itu menampakkan putik bunganya. Dan, yang membuatku girang tak kepalang, di luar kebiasaannya yang bila berbunga hanya memberikan satu bunga dalam satu tangkai. Ini empat putik bunga sekaligus dalam satu tangkai! Itu sebabnya, kugantungkan sebuah tulisan berisi maklumat akulah sang pemilik empat putik bunga itu.

Suatu hari, seorang ibu tetangga kami mengalami "kesurupan". Sebenarnya kami tidak heran dengan kejadian itu, karena ibu itu sudah terlalu sering "kesurupan". Biasanya "kesurupan"nya itu akan hilang setelah permintaannya dituruti. Padahal permintaannya sering membuat bergidik. Pecahan kaca, pecahan piring - gelas, pecahan genteng. Semua itu akan dimakannya dengan lahap tanpa bersisa. Seperti biasa bila "kesurupan", ibu itu naik ke para-para rumah. Menari-nari di atas sebilah kayu kuda-kuda atap rumah. Dan selalu, orang-orang yang melihatnya ramai berteriak menyuruhnya turun. Ibu itu bergeming. Tetap melenggak-lenggokkan tubuhnya sambil berjalan dari ujung bilah kayu ke ujung yang lain sembari nembang. Dan di ujung bilah kayu, ibu itu membalikkan tubuhnya dengan putaran tubuh yang sangat cepat. Semakin orang keras berteriak, semakin menggila tingkah ibu itu. Dan ibu itu mengancam akan melompat dari ketinggian para-para bila ada yang mencoba naik untuk menurunkannya. Hampir seharian ibu itu di atas para-para sambil terus menari-nari. Bila sudah kelelahan, ibu itu akan duduk di bilah kayu itu dengan kaki menjuntai sambil terus nembang. Saat itulah, tawaran keinginannya diajukan. Sore itu ibu itu mau turun asal dicarikan bunga cempoko boros. Teman-temanku sontak bersorak kegirangan sambil menatapku penuh kemenangan. Hanya rumahnya Wiwik, satu-satunya di kampungku yang mempunyai pohon bunga cempoko boros. Aku terhempas dalam kesedihan yang luar biasa melihat ibu itu memakan dengan lahapnya kembang cempoko borosku. Dan, semakin menghunjam menusuk hati rasa sedih itu karena tidak ada satu pun orang dewasa yang memahami rasa kehilanganku.

Di sisi lain halaman rumahnya. Persis di sebelah jendela kamar tidurku, tumbuh pohon jeruk Bali. Bila berbuah, sebagian buahnya menjuntai ke rumahku. Dan kami sering iseng nyonggrok dengan galah dari jendela kamar tidurku. Pak Dhe, begitu aku memanggil bapaknya, pasti hanya memelototkan mata tanda marah tanpa mengeluarkan sepatah kata pun bila kebetulan memergoki keisengan kami berdua. Kami hanya nyengir, meskipun tahu bersalah tetapi berlagak tidak bersalah. Kalau Pak Dhe sudah berlalu, keisengan yang sempat terhenti dilanjutkan kembali hingga berjatuhan beberapa buah jeruk. Perkerjaan yang sangat sia-sia karena jeruk itu tentu belum bisa dimakan. Kami hanya suka mengamati pola buah jeruk itu saat diiris tipis-tipis, seperti kue kering kalengan.

Di bawah pohon jeruk itulah, aku dan Wiwik merayakan sya'banan.
Setiap bulan Sya'ban, sebulan sebelum Ramadhan, kami - para anak-anak di kampung kami - membuat gubuk jerami secara berkelompok. Biasanya, sih, berkelompok berdasarkan persahabatan yang terjalin. Aku selalu membuat gubuk itu bersama Wiwik. Selama hampir sebulan kami berumah dan melakukan aktivitas layaknya seperti di rumah, di dalam gubuk itu. Memasak, belajar, dan tidur di gubuk itu. Pulang ke rumah hanya bila waktu mandi tiba. Di malam hari, setelah sholat Isa berjamaah di tempat Pak Anas, guru mengaji kami, kami saling berkunjung ke gubuk para tetangga kami yang bertebaran di halaman sekitar rumah kami untuk sekadar saling bertamu dan bertukar hasil masakan kami. Sambil bercerita ramai layaknya orangtua-orangtua kami bila sedang kenduri berkumpul bersama. Sebuah pesta gubuk yang meriah dan mewah. Bila malam purnama tiba, sepakat para penghuni semua gubuk berkumpul di depan salah satu gubuk yang mempunyai halaman paling luas. Di arena itulah kami menghabiskan malam purnama. Biasanya, Pak Anas memanfaatkan momentum itu untuk memberikan nasehat-nasehat tanpa menggurui, tetapi dengan media dongeng yang membuat kami dapat selalu terpukau. Pak Anas, selain pandai mengajarkan mengaji, juga seorang pendongeng ulung. Setelah dewasa aku baru tahu, bahwa materi dongengnya sebagian besar diambil dari kisah para Sahabat Nabi. Selesai acara, kami pulang ke gubuk kami masing-masing, dan kemudian Surah Yasin terdengar dari masing-masing gubuk. Kami membaca Surah Yasin di gubuk dengan penerangan lampu teplok. Kami membaca Surah Yasin karena kata Pak Anas, di malam tanggal 15 Sya'ban itulah takdir kami setahun ke depan ditetapkan. Dengan membaca Surah Yasin sebagai pengantar doa, kami berharap takdir yang ditetapkan untuk kami adalah takdir baik.

Perkampungan gubuk itu akan berakhir tiga hari menjelang Ramadhan. Kami akan membongkar gubuk kami dengan perasaan sedih kehilangan. Dan, mengenang sya'banan masa kecilku, selalu membuatku terhempas ke dalam nestapa karena aku tidak bisa menghadirkan kemewahan itu kepada kedua anakku. Mereka terpenjara di tembok kota metropolitan. Sehari penuh terkungkung di balik riuhnya sekolah. Berangkat pagi buta, pulang saat senja telah tenggelam, dan malamnya tidur kelelahan. Sementara, tidak ada satu pun halaman rumah di komplek kami yang bisa dipakai untuk mendirikan hatta hanya sebuah gubuk. Bila tidak karena sempitnya halaman, seperti rumah kami, ya karena halaman itu lebih bermanfaat untuk memarkir beberapa mobil. Maafkan ibumu, Nak, yang telah merampas keceriaan masa kanakmu. Tetapi, di balik tembok sekolahmu lebih baik kiranya bagi ibu daripada riuhnya mall dan pikuknya jalanan metropolitan. Penyesalan selalu datang di belakang....

Kebun Pak Dhe luas. Dipenuhi bermacam-macam pepohonan. Sebut segala macam buah, hampir dipastikan ada di dalam kebunnya yang luas itu, yang ada di sisi lain dari rumahnya. Aku dan Wiwik mempunyai sebuah pohon favorit. Pohon jambu biji yang mempunyai banyak cabang, dan sangat mudah untuk dipanjat. Cabang-cabangnya hampir rebah semua, tidak menjulang ke atas, sehingga sangat nyaman untuk dijadikan tempat duduk-duduk atau bahkan rebahan. Kami berdua membagi pohon itu menjadi dua wilayah teritorial. Separo sebelah timur menjadi milikku, separo sebelah barat adalah miliknya. Setiap sepulang sekolah kami langsung menuju "rumah pohon" kami itu. Terkadang hanya untuk duduk-duduk sambil membaca buku cerita anak berbahasa Jawa, buku cerita satu-satunya yang aku punya pemberian seorang pak dheku, "Kuncung lan Bawuk". Meski telah dibaca berpuluh-puluh kali sampai bukunya kumel, kami tidak pernah merasa bosan mengulangnya. Dan sesekali membawa peralatan untuk rujakan, yaitu cobek dan ulekan. Buahnya terdiri dari jambu biji yang langsung kami petik di atas kepala kami ( serasa berada di dalam surga, yang sering Pak Anas kisahkan bahwa di surga nanti, bila ingin buah - apapun buah itu - tinggal memetiknya di atas kepala), mengkudu, pepaya muda, petai cina, dan babal ( Itu, tuh, bunga buah nangka). Sambil menahan rasa pedas rujak di mulut, kami berceloteh tak habis-habisnya. Menceritakan pengalaman selama sekolah. Bahkan, sering pula kami mengadakan "pesta" di atas pohon jambu itu. Yaitu, membawa aneka penganan dan limun dari rumah. Kami baru turun dari pohon bila mendengar teriakan Yu Bikem, pengasuh adikku, menyuruhku pulang untuk mandi sambil ngomel-ngomel. Itu tandanya hari telah menjelang senja. Barulah saat itu, kami merasakan rasa gatal menjalar di seluruh tubuh. Tubuh kami telah penuh dengan bekas gigitan nyamuk kebun.

Ada satu lokasi rahasia kami di kebun itu bila Ramadhan datang. Waktu itu aku kelas 3 SD, belum kuat untuk berpuasa sampai maghrib tapi tergiur dengan iming-iming baju baru yang banyak saat lebaran nanti. Jadi, sering aku dan Wiwik berpura-pura berpuasa penuh sampai maghrib, padahal sebenarnya tidak. Siang hari ketika orang-orang terbuai dalam istirahat tidur siangnya, kami bergerilya membawa makanan yang kami bawa dalam tlekem, tempat nasi atau bisa juga untuk tempat penganan yang terbuat dari janur yang dianyam. Bentuknya kotak seperti kotak dari bahan kertas daur ulang yang sekarang banyak di jual di toko-toko. Berhasil membawa tlekem yang penuh dengan menu makan siang, sisa menu sahur, kami terbirit berlari menuju kebun. Jugangan besar di kebun lah yang menjadi tujuan kami. Lubang yang dibuat untuk mengumpulkan sampah sebelum nantinya setelah sampah itu banyak ditimbun dengan tanah dijadikan kompos. Kotor dan banyak cacing, tentu. Tapi kami tutupi area itu dengan daun-daun kering yang banyak terkumpul di sudut jugangan, hasil Pak Dhe menyapu kebun. Kemudian kami makan dengan tenang, karena saking besarnya jugangan yang dibuat Pak Dhe menyebabkan kami, tubuh-tubuh kecil ini tidak akan terlihat orang yang banyak berlalu-lalang di luar pagar kebun. Setelah kenyang, kami tinggalkan tlekem itu di jugangan dan kami melenggang keluar dengan tertawa-tawa puas. Pulang ke rumah sebelum orang-orang bangun dari tidurnya, dan kami ikut ( pura-pura ) tidur siang. Bangun dengan menunjukkan wajah lesu karena berpuasa. Tentu saja tanpa merasa berdosa. Kami belum bisa benar-benar memahami kata-kata Pak Anas bahwa Allah Maha Mengawasi dan segala tingkah kita dicatat dengan teliti oleh dua malaikat yang selalu menempel di kedua pundak kita. Rasanya, itulah satu-satunya "kenakalan" kami yang luar biasa nakal.

Kolam ikan Pak Dhe luas. Seluas lapangan futsal. Isinya berbagai jenis ikan. Dari yang kecil-kecil sampai yang sebesar paha orang dewasa ada di kolam itu. Ada ikan Bandung yang warnanya meriah. Putih, merah, jingga. Kami menyebutnya ikan Bandung untuk sebutan ikan mas. Kata orang di kampung kami, karena ikan itu berasal dari Bandung. Ada ikan melem yang berwarna hitam dengan sisik halus. Aku senang dengan ikan melem ini, karena telurnya yang memenuhi seluruh rongga perut betinanya sungguh nikmat bila dimasak. Tetapi, dari semua ikan yang ada di kolam itu, ikan kalper-lah yang jadi ikan kesukaanku. Aku senang berlama-lama duduk di pinggir kolam itu, berteduh di bawah rimbunnya pohon markisa yang menjulur memenuhi anjang-anjang dari bambu, memperhatikan si cantik berwarna hitam dengan garis kuning kuat di punggungnya itu lincah menari-nari. Paling gesit gerakannya di antara para ikan penghuni kolam itu.

Di rumahku juga ada kolam. Tapi tidak sebesar kolam Pak Dhe. Dan kolam rumahku hanya berpenghuni ikan mujahir berwarna hitam kelabu yang rakus-rakus. Jadi aku lebih senang duduk-duduk di tepi kolam ikan Pak Dhe. Yu Bikem, yang telah menjadi ibu keduaku, jarang kesulitan mencariku. Bila tidak di atas pohon jambu biji, ya di pinggir kolam Pak Dhe ini. Aku akan tidak bisa dicari Yu Bikem bila acara mingguan tiba.

Setiap Minggu pagi, aku, Wiwik, dan beberapa teman lain telah melesat keluar rumah sambil membawa irig, seser, atau peralatan menangkap ikan lainnya untuk menyusuri kalen yang banyak bertebaran di sekitar desa kami. Tiada hari Minggu tanpa kegiatan pirig. Mencari ikan. Favorit kami adalah kalen Siwedhi karena paling banyak ikannya. Sayangnya, kalen ini menjulur membelah persawahan yang jauh dari rumah hingga keluar sampai desa tetangga. Sebenarnya, ikan yang kami peroleh tidak seberapa. Dan sudah dipastikan tidak bisa memenuhi quota untuk dimasak. Malah, yang sering terjadi, kami hanya mendapat ikan dalam hitungan jari tangan banyaknya. Itu pun hanya ikan bokol, uceng, dan gondhok yang kecil-kecil. Tetapi, keasyikan menyusuri kalen menimbulkan sensasi petualangan yang luar biasa. Bila lapar mendera, kami akan bergerilya nyiwil, yaitu mencari tanaman ubi jalar liar di lereng-lereng bukit tepi kalen, atau di pematang-pematang sawah. Karena pengalaman panjang, kami tidak pernah merasa sedikitpun kesulitan menentukan siwil yang berumbi atau tidak. Tanaman itu akan diketahui berumbi bila di ujung cabutan, batangnya membesar menunjukkan patahan ujung umbi. Bila tidak berumbi, batang tanaman akan lurus langsing tak membesar di ujungnya. Menyusuri kira-kira arah letak umbi juga hal yang sangat mengasyikkan. Ubi mentah yang kami peroleh itu kami makan setelah dicuci di kalen yang airnya masih jernih dijamin belum terkontaminasi polusi. Rasa ubi siwil selalu manis. Untuk perut yang keroncongan lapar, nikmatnya luar biasa. Sedangkan untuk minumnya cukup menyiduk air tuk yang banyak ditemukan di kaki perbukitan yang menjadi salah satu sisi kalen. Kami tidak menjadi sakit perut dengan memakan ubi mentah dan meminum air tuk itu. Tentu saja, pakaian kami sangat kotor karena hampir seluruh permukaannya tertutup tanah hitam kelabu lendut sawah yang bercampur tanah merah perbukitan. Meskipun setiap sorenya sepulang pirig ibuku - bila ada di rumah - atau Yu Bikem memarahiku, aku tidak pernah jera pirig.

Ini juga sebuah kemewahan yang tidak bisa aku berikan kepada kedua anakku. Karena masa kanak mereka lebih banyak berada di belantara hutan buatan yang berada di layar monitor komputer. Hanya sesekali aku dan suamiku membawa mereka menyusuri kalen dan persawahan di pinggiran kampung sekitar komplek rumah kami. Sudah tentu tak ada ikan yang bisa dipirig di kalen itu, karena kalen itu telah berubah fungsi menjadi selokan mampet berwarna hitam pekat dengan hiasan buih deterjen rumahtangga memenuhi permukaan airnya. Pernah suatu ketika suamiku membiarkan rasa penasaran anakku yang ingin jalan menggiring bola di atas selokan mampet itu. Hasilnya, sampai di rumah kedua kakinya penuh dengan ruam merah alergi, yang membuat berhari-hari tidak bisa tidur nyenyak karena sibuk menggaruk kedua kakinya itu. Apalagi untuk mengajarkan nyiwil. Mimpi kali, ya?

Kini, kami telah pulang ke kampung halaman. Aku dibuatnya terkesima. Kalen Siwedhi tak ada lagi. Bersama kedhung Munggang telah berubah wajah menjadi komplek perumahan. Dan julurannya yang ke arah selatan telah berubah menjadi asrama mahasiswa sebuah perguruan tinggi. Ya, lapangan bola di mana dulu kami bermain kasti telah berubah menjadi komplek perguruan tinggi. Kampung halaman kami, yang dulu sepi begitu jauhnya dari ibukota kabupaten, kini telah gemerlap oleh semaraknya kehidupan kampus. Kehidupan perekonomian ikut menggeliat bersama dengan semakin berkembangnya perguruan tinggi tersebut. Kampung kami telah berubah menjadi kota kecil. Inilah hidup, yang selalu bergerak mengikuti zamannya.

Tak ada lagi kutemukan anak-anak yang berkecipak di kalen, riuh berebut pirig, meskipun airnya masih sejernih seperti yang aku kenal dan ikan bokol, uceng, gondhok juga masih sebanyak dahulu. Tak ada lagi anak-anak yang riang menyusuri pematang sawah untuk hanya sekadar mencari kluban sawah, atau keong sawah untuk bekal menunggu waktu berbuka puasa. Tak ada lagi anak-anak yang asyik berumah pohon. Tak kulihat lagi semua itu di kampung kami. Permainan dan gaya kehidupan modern telah merampas kehidupan masa kanak-kanak mereka untuk dekat dan kenal dengan alam lingkungan . Padahal, bukankah tak kenal maka tak sayang?

Aku masih layak bersyukur, masih bisa membawa kedua anakku menapaktilas keceriaan masa kecil ibunya. Meskipun hanya di halaman rumah kami yang belum jadi, aku telah berhasil menujukkan asyiknya nyiwil. Alhamdulillah, meskipun awalnya sambil berwajah "Kami disuruh mencoba zaman primitif? Yang benar saja, Ibu?" lidah mereka bisa menikmati ubi siwil. Alhamdulillah, anakku masih bisa merasakan indahnya memetik ucen, ciplukan dan ranti, meski kami harus mengajaknya jauh ke pelosok desa di lereng gunung Sindoro. Dan yang paling menggembirakan bagi mereka adalah saat pertama kali melihat beberapa kunang-kunang - yang seumur-umur mereka bahkan untuk hanya membayangkan rupa bentuknya pun sangat sulit - berkeliaran terbang di belakang rumah kami. Aku bersyukur, meski mereka telah beranjak remaja, tapi masih bisa merasakan sedikit keceriaan anak-anak. Keceriaan yang murah, tetapi sangat istimewa. Seistimewa hidup ini.

Wik, terima kasih atas kenangan indah di masa kecil kita....

Senin, 19 September 2011

TIADA YANG ABADI

Seperti judul lagunya Petterpan saja....!
Tapi ini soal sangat serius...Hari ini aku dibuat terkesiap, gemetar, merinding, yang menyebabkan hilangnya segala nafsu kesenangan.

Ketika aku sedang menerjang batas cakrawala, menyoba bersama para sahabat yang sedang berktakziah mbak Yungky, sebuah sms mengisi handphone-ku "Assalam ukhtifillah...kaifa haluki? Say aku mau minta tolong nih, tapi gak buru2 lho. BIKININ AKU PUISI DONK. judulnya "TIADA YG ABADI" intinya: kekuatan, kecantikan, kepintaran, kekayaan, jabatan kan hilang dengan kembalinya kita pada SANG PENCIPTA. yang tinggal hanya kebaikan pada sesama (jika ada dan banyak) Jazakillah ya"

Aku terjerembab jatuh dalam nestapa. Keindahan pagi yang berselimut halimun raib seketika. Tiada yang abadi...
Keinginan mempercantik tampilan rumah, menata seluruh ruang yang ada supaya seperti yang ada dalam sebuah tabloid property yang baru aku baca, beterbangan bersama menipisnya kabut pagi. Hilang terkoyak karena sms magis itu...

"Alhamdulillah ana bil khaiir...Sungguh berat terasa amanahmu itu, ukhti...Jangankan puisi, menulis yang lain aja sekarang tergagap2 lebih sering mentok di tengah jalan...Kok tiba2 menghendaki puisi maha dahsyat gitu, gerangan apakah?"

Pagi itu, di antara ingatan ke para sahabat yang sedang bertakziah mbak Yungky, akhirnya berbalas sms. Sms yang menggetarkan sendi-sendi hati...

"Ya say aku minta tolong pada dikau dengan pertimbangan banyak sekali dikau berhadapan dengan orang2 sakit di mana di situ segala yang diberikan Allah nyaris hilang. renungan2 dikau aku harapkan dinda," balasnya atas pertanyaanku.

Aku tercekik. Bagaimana mungkin, seorang "sekelas" sahabatku ini meminta renungan-renungan dariku? Aku, yang masih sangat sering terbata-bata meniti hidup, terkadang oleng karena terpaan ujian, yang kadang masih gamang meretas jalan? Benarkah?

"Hiks...Tidakkah BILA WAKTU T'LAH BERAKHIR-nya Opick, dan KETIKA MULUT TAK LAGI DAPAT BICARA-nya Chryse sudah begitu dahsyat berbicara? Kalau pasienku kebanyakan mengajarkan JANGAN SAKIT karena sakit menjadikan kita miskin...padahal, kemiskinan sangat dekat dengan kekufuran, bukan?"

"Puisi itu kan kutujukan buat diriku juga orang2 di sekelilingku, baik yang dekat maupun yang agak jauh. Agar kami bisa terhindar dari KESOMBONGAN, EGOIS, AMARAH JUGA TIPU DAYA SETAN LAINNYA. Please dear...pelan2 saja. 1 malam 1 baris juga gak apa2"

"Gak janji, ya, mbakyu...kuusahakan sekuat yang kumampu..."

"Semoga adindaku dapat mempersembahkan yang indah dan menggugah untuk hati2 yang gundah...Yu huy...aku lagi melankolis nih," sambutnya. Aku dapat merasa ada rasa girang di dalamnya, meskipun melankolis.

Tiba-tiba, sms lain menyeruak di antara aliran smsku.
"Alhamdulillah aku sempat melihat jenazahnya dan mensholatinya... Subhanallah jenazahnya say...cantiiikkk...kaya lagi tidur..."

Terpelanting aku ke jurang tak berdasar. Gelap, tetapi banyak kunang-kunang...

Hari ini, begitu banyak dzikrul maut - mengingat kematian - yang ALLAH kirimkan untuk kurenungkan. Seorang sahabat yang ALLAH kirimkan memintaku membuat puisi akan kematian, dan seorang sahabat lagi yang mengirimkan warta tentang berpulangnya salah satu sahabat terbaik yang telah menyelesaikan tugas berjuang melawan keganasan dengan wajah tersenyum. Inilah salah satu cara ALLAH mengajarkanku untuk istiqomah di jalan niat semula. Kembali ke kampung halaman adalah langkah hijrah, mencari ladang amal sholih dan berharap bisa berbuah surga. Bisakah aku juga tersenyum ketika ALLAH memanggilku?


Senin, 12 September 2011

RUMAH TERAKHIR DUNIA

Jum'at 3 Syawal 1432 H, 2 September 2011 resmilah kami menempati rumah baru kami. Semoga ini menjadi rumah terakhir kami di dunia. Hitung-hitung, sejak menikah kami sudah berpindah rumah sebanyak delapan kali. Lebih banyak dari pindahnya seekor kucing beranak. Pejaten, Harapan Baru, Pasirukem, Harapan baru, BBD, Permata Puri Laguna ( atas ), Permata Puri Laguna ( bawah ), Kp. Sabuk Alu, dan berakhir di sini : Jl. Dieng KM 3 No 79B Kalianget-Wonosobo.

Banyak teman yang bertanya-tanya gerangan apa mendadak pulang kampung. Dengan bercanda, kujawab kalah berperang melawan garangnya ibu kota Jakarta hehehe...
Bukan itu tentu alasana sebenarnya. Pulang kampung adalah cita-cita kami berdua, aku dan suami. Rencana awal memang, setelah anak-anak kuliah, kami berdua pulang kampung. Membuat basecamp di kaki gunung Sindoro. Melakukan perjalanan wisata, singgah beberapa lama di kota yang kami senangi, menuliskannya. Dan melakukan rehat perjalanan dengan "menemani" kost anak-anak yang sedang kuliah. Bila mereka kuliahnya tak sekota, digilir. Menyenangkan, bukan?

Ternyata, tak harus menunggu anak-anak kuliah. Di tengah perjalanan ekspedisinya, "Kita pulang ke Wonosobo setelah saya selesai ekspedisi, bagaimana?" tanya suamiku via sms. Entah, racun apa yang ditiupkan suamiku, aku seketika mengiyakan. Kontrak rumah akan selesai, Aulya rampung SMP, dan - baik aku maupun suamiku - tak terikat oleh pekerjaan yang mengharuskan berumah di Jakarta. Lebih dari itu, Jakarta tidak kondusif untuk kelanjutan sekolah anakku. Menurut kami berdua. ( Alif, si sulung, kami sekolahkan di Cirebon. Sekolah berasrama ). Aulya, yang semula keberatan pindah, akhirnya mau setelah kami memaknai kepindahan ini sebuah langkah hijrah.

Dan, di rumah inilah sekarang kami..
Pagi kedua di rumah baru, suamiku berdua Alif duduk-duduk di teras belakang yang menghadap bukit kecil di seberang sungai yang airnya mengirim suara gemericik surgawi dan melintasi pematang sawah yang mulai ditanam padi. "Serasa rumah villa, ya, Pak," ujar Alif sambil mengudap serabi yang dibeli bapaknya.

Untuk ukuran kami yang telah berpuluh tahun terbiasa hidup di pinggiran metropolitan Jakarta dengan rumah tanpa halaman, tembok dinding rumah harus berbagi dengan tetangga, dan sejauh-jauh mata memandang hanyalah bangunan-bangunan rumah, menemukan suasana baru yang sungguh sangat kontras adalah sebuah kemewahan yang luar biasa istimewa.

Suamiku tersenyum. "Kamu senang, Nak?"

Sulungku mengangguk.

"Sayang, nih, satu yang kurang..."

"Apa?"

"Nggak boleh merokok..." Suara suamiku terasa masygulnya.

"Katanya hijrah euy..."

Berkali-kali kutekankan, kepindahan kali ini adalah hijrah. Bukankah hijrah selalu bermakna menuju ke kebaikan? Bukankah dari merokok menjadi tidak merokok juga sebuah kebaikan? Coba dilihat dari sisi manapun - kecuali dari sisi penjual dan produsen rokok, tentu saja - tidak merokok pasti lebih baik dari pada merokok. Meski harus pakai sedikit ancaman, akhirnya suamiku mau untuk tidak merokok.

Inilah rumah kami. Semoga menjadi rumah terakhir dunia kami. Semoga menjadi rumah yang dirahmati, diridhai, dan diberkahi ALLAH. Semoga rumah ini dapat menjadi ladang amal shalih bagi para penghuninya yang ALLAH ridhai sehingga layak menjadi bekal kami menuju surgaNya. Dan, semoga keluarga kami menjadi keluarga sakinah, mawadah, warahmah. Semoga rumah ini menjadi surga kami. Meski tak bermeja-kursi :)

Robbana anzilna munzallan mubaarakan wa anta khayrulmunziliin, Ya Tuhan kami, tempatkanlah kami pada tempat yang diberkahi, dan Engkau adalah sebaik-baik pemberi tempat.